Syariat "Omong-Kosong" - bagbudig

Breaking

Wednesday, June 17, 2020

Syariat "Omong-Kosong"

Adalah benar bahwa Aceh telah melakukan formalisasi syariat Islam yang kemudian telah melahirkan setumpuk qanun sebagai produk hukum di tanoh endatu. Tapi, ada pertanyaan klasik yang sampai saat ini masih terus terbuka untuk diajukan. Apakah semua orang Aceh paham dengan syariat Islam yang saban hari terucap dari mulut mereka

Jawabannya adalah tidak. Faktanya sangat sedikit orang Aceh yang paham substansi syariat, atau mungkin sama sekali tidak mau tahu.

Secara prinsip kita tidak mungkin menyalahkan syariat Islam karena ia adalah ajaran suci yang turun dari langit. Tapi, kita dengan tegas menolak ketika syariat Islam dimasukkan ke dalam kotak ~ yang kemudian dipahami secara parsial dan picik.

Qanun-qanun syariat Islam yang kian menumpuk di Aceh adalah kotak-kotak sempit yang notabene adalah produk politis ~ yang belum tentu sesuai dengan kehendak Ilahi sebagai pemilik syariat, meskipun sebagiannya telah melalui uji akademis.

Kotak-kotak sempit itu selalu saja disesuaikan dengan selera dan kepentingan politik demi mendeklarasikan diri sebagai loyalis syariat paling taat. Akibatnya, qanun-qanun sama sekali tidak mampu menghadirkan kesadaran bersyariat, tapi justru meneguhkan syariat hanya sebagai Maop ~ tempat berlindungnya pemerintah yang gagal sembari mempermalukan rakyat yang sekarat.

Lebih jauh, qanun-qanun itu juga sama sekali tidak memiliki marwah di hadapan aksi premanisme oknum badut-badut tanoh endatu yang tak segan bertakbir sembari merusak, membakar, menginjak dan lalu menepuk dada ~ mengumumkan pada dunia bahwa Aceh Tanoh Aulia.

Jujur saya memang tidak melakukan riset terkait dampak qanun-qanun itu terhadap kesadaran bersyariat masyarakat Aceh, tapi fakta-fakta yang tersaji begitu vulgar dan menyemak ~ bahwa syariat yang selama ini dikampayekan hanya bual belaka, syariat omong-kosong, bukan syariat suci yang dikehendaki para Nabi.

Lihat saja bagaimana qanun-qanun itu hanya menjadi patung tak berdaya di hadapan praktik korupsi di tanoh endatu. Lihat juga betapa lemahnya qanun-qanun di depan keangkuhan penguasa yang bebas melenggak-lenggok tanpa sekali pun punggungnya terkena cemeti seperti halnya jelata yang hampir saban hari dipermalukan di atas panggung eksekusi.

Dan uniknya kita tidak pernah sadar dengan apa yang menimpa diri kita sendiri. Bahkan sebagian kita terjebak dalam euforia kegilaan yang sulit dimengerti ~ di mana kita begitu bangga mempermalukan kaum kita sendiri, kaum jelata, sementara penguasa menonton dengan asyiknya.

Baru-baru ini sebuah video beredar luas di pentas maya. Terlihat seorang perempuan tak berdaya dikeroyok ramai-ramai dengan penuh semangat sembari bersuka-ria ~ tindakan immoral yang binatang pun enggan melihat, apalagi turut terlibat layaknya manusia bejat berlagak suci.

Diduga mencuri perempuan malang itu segera saja menjadi bulan-bulanan laki-laki gagah perkasa. Seolah ingin mempertegas pada dunia bahwa mereka terlahir dari batang kelapa, bukan dari perut perempuan yang mestinya mereka lindungi.

Sangat sulit bagi kita untuk menebak apakah mereka pernah berpikir bagaimana sekiranya perempuan itu ibu mereka sendiri yang mencuri demi anaknya yang kelaparan.

Dalam tayangan video tak terlihat seorang pun yang berusaha menolong. Semuanya bergembira ~ seolah perempuan malang itu adalah penjahat paling besar di muka bumi. Berengsek!

Bukan sekadar kekerasan yang sama sekali tak pantas, tapi tayangan video mengerikan itu juga menampilkan ulah begundal yang dengan sengaja menarik jilbab dan lalu mencukur rambut korban. Ini adalah pelecehan paling biadab di negeri syariat.

Melihat pemandangan serupa itu, apakah kita masih percaya bahwa syariat itu ada di tanah ini?

Gila!

Kita begitu sangar di hadapan penjahat-penjahat kecil yang kelaparan, tapi di waktu yang sama kita masih mampu bermanis muka dengan pencoleng uang rakyat sembari berujar “kabi bantuan rumoh keu ke, kubi fee 15 persen keu kah.” Bagbudig!

No comments:

Post a Comment