Terinfeksi Corona Muncul Lagi, Warning Untuk Pemerintah Aceh - bagbudig

Breaking

Sunday, April 19, 2020

Terinfeksi Corona Muncul Lagi, Warning Untuk Pemerintah Aceh

Oleh: H. Muhammad Nazar, S. Ag

Pemerintah Aceh Tak Boleh Lalai, Jangan Sembarangan Klaim Zero Case.

Tiga warga Malaysia, termasuk di antara mereka adalah mahasiswa Malasyia yang belajar di UIN Ar Raniry Banda Aceh positif terinfeksi virus corona yang diduga tertular ketika masih berada di Aceh. Ketiga warga negara tetangga tersebut kembali ke Malaysia pada tangga 16 April lalu dan langsung dideteksi setelah mendarat di bandara KLIA. Pada hari minggu, 19 April 2019. Otoritas pemerintah mengumumkan para warganya yang kembali dari berbagai negara dan termasuk ketiga warganya yang baru pulang dari Aceh dinyatakan positif terinfeksi.

Dalam hal penanganan dan pencegahan virus corona, Malasyia termasuk salah satu negara di kawasan ASEAN yang cukup cepat dan penuh tanggungjawab dalam merespons serta melakukan penanganan covid19. Bahkan Malasyia mampu melakukan kebijakan dan tindakan lockdown di seluruh negaranya dengan segala konsekwensi sosial dan ekonomi yang tentunya belum tentu sanggup jika hal itu dilakukan oleh pemerintah pusat RI yang sejak awal memang sangat abai, meremehkan dan sesumbar terkait kasus virus corona.

Sehubungan dengan pengumuman terbuka yang dikeluarkan otoritas Malasyia tersebut, hal mana tiga warga Malaysia yang baru pulang dari Aceh menjadi transmiter virus corona yang kemungkinan besar ditularkan dari Aceh telah diawasi ketat oleh otoritas Malasyia agar tidak terjadinya penyebaran tersembunyi dari orang-orang yang melakukan perjalanan atau kegiatan pulang pergi Malasyia – luar negara.

Otoritas pemerintah Aceh di bawah kepemimpinan Plt. Gubernur Nova Iriansyah melalui juru bicara Satgas Covid19 Aceh, Saifullah A. Gani menyatakan pada minggu, 12 April 2020 bahwa Aceh telah bebas dari keberadaan Pasien Dalam Pengawasan (PDP) dan tidak ada lagi yang positif terinfeksi virus corona. Tetapi beberapa hari kemudian, tepatnya pada pada tanggal 18 April, seorang warga Gayo Lues Aceh dinyatakan positif terinfeksi covid19. Pada saat yang hampir bersamaan, ternyata tiga warga negara Malasyia yang baru pulang dari Aceh juga dinyatakan positif terinfeksi setelah mendapat pemeriksaan medik sejak tanggal 16 April, begitu mendarat di bandara KLIA.

Dengan demikian, agar tidak terjadi kesalahan yang sama seperti pernah dikakukan oleh pemerintah pusat RI dalam merespons penyebaran virus corona Cina itu sehingga dalam bulan Maret 2020 mulai tampak adanya penyebaran tersembunyi corona, terutama di Jakarta dan pulau Jawa— maka pemerintah Aceh harus selalu mengutamakan pemantauan ketat yang lebih akurat sambil melanjutkan upaya-upaya pencegahan serius di seluruh Aceh.

Di Sumatra utara, salah satu provinsi Indonesia yang paling banyak terdapat keturunan dan aktifitas warga Cina yang pulang pergi Medan, Cina dan negara lain untuk kepentingan bisnis juga terjadi penyebaran corona tersembunyi. Provinsi Riau, kepulauan Riau dan berbagai provinsi lain di Sumatra yang masih mudah dicapai lewat jalan darat trans-Sumatra, yang juga termasuk tempat membangun relasi dan koneksi aktif langsung sebagian warga Aceh untuk berbagai tujuan juga ikut terpapar virus asal Wuhan Cina itu.

Beberapa pelabuhan di provinsi-provinsi tersebut ketika sedang terjadinya penyebaran masif corona di Malasyia juga masih sempat dimanfaatkan untuk tempat mobilisasi warga yang pulang dari negara itu, selain ada banyak warga Indonesia yang pulang lewat jalur belakang (illegal) pada saat pemerintah di Indonesia mulai menutup sementara aktifitas di berbagai pelabuhan.

Pemerintah Aceh tidak boleh lalai sedikit pun dalam hal pencegahan penyebaran virus corona maupun dalam merespons kondisi dinamis yang terjadi. Jangan sampai pemerintah Aceh menduga dengan penuh keyakinan bahwa Aceh akan kebal dan bebas dari virus corona. Suatu kesalahan besar jika hal itu diperlakukan, karena akan menimbulkan kesalahan kebijakan dan menyimpan ledakan korban yang lebih membuat panik tanpa diduga.

Cukup sudah kesalahan respons, keterlambatan kebijakan dan ketidakmenentuan tindakan pencegahan yang pernah dilakukan oleh pemeritah pusat— Aceh jangan ikut-ikutan melakukan kesalahan yang disengaja.

Kita dukung penuh setiap upaya pencegahan yang benar yang dilakukan oleh pemerintah Aceh dan pemerintah pusat RI. Seluruh warga Aceh kita harapkan ikut mencegah bersama. Kesadaran dan tindakan mencegah suatu malapetaka atau penyebab malapetaka adalah termasuk ibadah dan manifestasi keimanan. Sebab Allah menciptakan dan menghidupkan seluruh makhluk di dunia ini, termasuk manusia adalah dengan sengaja dan penuh hikmah— bukan kebetulan bukan tanpa tujuan.

Mencegah malapetaka dan penyebabnya, terlebih lagi penyakit yang mewabah, termasuk yang disebabkan oleh makhluk yang mematikan seperti virus corona saat ini adalah sama dengan mensyukuri kehidupan.

Bersyukur itu adalah kewajiban yang melahirkan nikmat. Kehidupan yang dianugerahkan Allah adalah ruang rahmat yang harus diisi dan dikelola dengan penuh manfaat kebaikan oleh manusia, bahkan jin saja diberikan beban mengabdi kepadaNya meski tak berhak lagi memimpin kekhalifahan bumi. Kehidupan adalah untuk pengabdian yang dalam bahasa Islam disebut ibadah, yang bentuknya beragam.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyat: 56).

Salam perjuangan dan doa keselamatan.

*H. Muhammad Nazar adalah Wakil Gubernur Aceh periode 2007-2012.

**Dikutip dari Fans Page Muhammad Nazar.

No comments:

Post a Comment