Jangan Takut Corona! Mari Berulok Ria - bagbudig

Breaking

Sunday, April 19, 2020

Jangan Takut Corona! Mari Berulok Ria

Barusan tersiar kabar, mahasiswa asal Malaysia yang belajar di Aceh ~ yang baru saja kembali ke Malaysia, dinyatakan positif Covid-19. Kira-kira demikian dilansir oleh sejumlah situs berita berbahasa Melayu.

Saya juga membaca komentar beberapa netizen di beranda facebook terkait pemberitaan ini. Konon, saluran informasi resmi tanah Melayu itu juga sudah konfirmasi soal ini.

Sebelumnya ~ setelah sempat minus kasus positif corona beberapa waktu, baru-baru ini dua warga Aceh kembali dinyatakan positif. Konon salah satunya tanpa gejala.

Tadi, juga sempat beredar video yang katanya dari ketua IDI Aceh ~ entah ia entah bukan ~ yang meminta agar masyarakat Aceh tetap waspada. Jika tidak, katanya, akan terjadi “ledakan” kasus di Aceh, khususnya saat Ramadan.

Sementara itu, pasca pencabutan jam malam beberapa waktu lalu, sebagian kedai kopi di beberapa daerah tampak sudah mulai buka. Bukan beli bungkus seperti anjuran pemerintah, tapi nongkrong. Seperti biasa. Seperti hari raya.

Tidak ada yang bisa melarang orang Aceh minum kopi. Kira-kira begitu slogan dan tagar media sosial pasca pencabutan jam malam di Aceh.

Bahkan rasa percaya diri sebagian masyarakat kembali bangkit karena baru ada dua dua kasus di Aceh setelah sebelumnya minus. Karena itu kedai-kedai kembali ramai dan anjuran salat di rumah pun sudah dianggap kedaluarsa.

Aceh sudah aman. Keyakinan itu kembali tumbuh subur. Sebagian oknum intelektual, baik yang “sekuler” maupun yang “over religius” juga turut memberi semangat kepada masyarakat yang sebagiannya memang sudah sejak awal menjadi “parte tungang” ~ agar tidak perlu takut.

Begitu juga ketika mereka mendengar kabar ada mahasiswa Malaysia yang tertular saat kembali dari Aceh. Mereka mencoba memunculkan spekulasi bahwa penularan itu bukan terjadi di Aceh. Bisa jadi di bandara atau di pesawat, atau mungkin justru di Malaysia sendiri, kata mereka. Pokoknya Aceh aman. Tidak mungkin dari Aceh, meskipun Malaysia menyebutnya sebagai kasus impor.

Sebentar lagi Ramadan. Meskipun beberapa ulama sudah mengeluarkan fatwa untuk tarawih di rumah, dan khusus di Indonesia ada edaran Menteri Agama, tapi masih ramai orang kita yang tetap berkukuh dengan pikirannya masing-masing. Tidak ada yang bisa melarang orang Aceh ke masjid, kira-kira demikian semboyan yang sudah disiapkan ~ dan bahkan sudah berkembang.

Jika sudah begitu, kita yang dianggap sebagai pengecut sudah mestinya diam. Kita mesti siap-siap menonton ulok sebagian teman-teman kita yang semakin membiak.

Bukan tidak mungkin, kualitas ulok kali ini akan lebih hebat dari dulu-dulu. Baru dua kasus. Masih aman. Mari berulok ria!

No comments:

Post a Comment