Baluem Tak Terduga Pemerintah Aceh - bagbudig

Breaking

Monday, April 20, 2020

Baluem Tak Terduga Pemerintah Aceh

AceHTrend.com merilis kabar menarik hari ini. Kabar itu terkait dengan pembiayaan baluem alias goody bag untuk bantuan kepada masyarakat terdampak Covid-19 dengan total anggaran lebih dari satu milyar rupiah. Uang 1,2 M itu hanya untuk pembungkus, bukan isi.

Seperti dirilis AT, anggaran 1,2 M tersebut digunakan untuk membayar 60 ribu tas bungkus berlogo Pemerintah Aceh. Konon harga per-tas Rp. 20.000. Dana yang digunakan untuk baluem pembungkus sembako dimaksud, masih menurut AT ~ berasal dari Anggaran Tidak Terduga.

Tanpa perlu waktu lama, kabar ini segera menjadi perhatian publik. Pemerintah Aceh di bawah kendali Plt Gubernur kembali disorot. Menyikapi ini, seperti biasa, publik terbelah ke dalam beberapa kelompok sesuai dengan posisi masing-masing.

Bagi mereka yang berada di lingkaran kekuasaan, tidak ada pilihan lain kecuali melakukan rasionalisasi bahwa harga demikian adalah wajar dan bahkan termasuk dalam paket hemat. Sementara publik yang berada di luar kekuasaan juga “tidak punya kegiatan lain” kecuali mengkritisi “proyek eumpang baluem” Pemerintah Aceh yang memang terlihat “seksi.” Adapun masyarakat yang benar-benar terdampak oleh pandemi hanya bisa bertanya-tanya, kapan baluem-baluem itu sampai kepada mereka ~ atau, apakah nama mereka sudah tercantum dalam daftar penerima baleum?

Namun demikian, sampai detik ini belum ada analisis yang kredibel ~ apakah munculnya fenomena baluem tidak terduga senilai 1,2 M itu justru disebabkan karena ia bersumber dari anggaran tidak terduga? Dalam hal ini, tentunya publik bakal kewalahan mencari jawaban yang benar-benar akurat. Butuh imajinasi di atas rata-rata untuk bisa masuk dalam kerangka pikir Pemerintah Aceh yang tetap kreatif dalam bencana.

Sebelumnya, sebagian publik juga sempat mempersoalkan warna baleum yang oleh beberapa desainer dianggap tidak sesuai dengan kaidah desain karena warna dan gambar yang terlihat norak sehingga mirip baju putih yang kelebihan blawu ~ yang sering kita pakai di masa kecil.

Dan, akhir-akhir ini Pemerintah Aceh memang terus disorot.


Tadi sore, saya juga sempat mengikuti acara TV Facebook yang disiarkan teman saya, Budi Azhari. Dalam acara itu hadir Jurubicara Pemerintah Aceh dan dua anggota DPR Aceh. Satu lagi, wartawan Serambi Indonesia.

Saat itu, Budi Azhari bertanya kepada seseorang berbaju dinas khas Pemda yang sebagian wajahnya tertutup masker. Budi menanyakan tanggapan orang itu terkait tingginya biaya operasional paket bantuan.

Kalau saya tidak salah dengar, dan saya yakin tidak salah, orang itu yang kemudian saya duga sebagai jubir Pemerintah Aceh menjawab kira-kira begini:

“Soal operasional itu ada auditor, ada Pak Dewan. Jangan dipikirkan masyarakat.” Kira-kira substansinya begitu, atau kalau ada yang ragu, kita bisa minta Budi membuka kembali rekaman itu. Dan seandainya saya salah dengar, saya siap minta maaf dan segera mengobati kuping di THT terdekat.

Jadi, terkait jawaban itu, jujur saya tidak menduga beliau akan menjawab demikian. Lagi-lagi saya bertanya-tanya, apakah jawaban tidak terduga ini juga memiliki kaitan dengan anggaran tidak terduga?

Setelah mendengar jawaban itu, tiba-tiba tanpa terduga selera saya untuk melanjutkan tontonan hilang. Sedang asyik menikmati mi goreng tumis kuwah meukeuleupok tiba-tiba seekor cecak melakukan terjun payung pas ke dalam piring. Kira-kira demikian perasaan saya setelah mendengar jawaban tak terduga jubir Pemerintah Aceh.

Bukannya kita tidak menghargai auditor atau anggota DPR sebagai wakil rakyat, tapi sejak kapan seorang jubir punya kewenangan tak terduga untuk melarang rakyat mengawasi anggaran pemerintah yang notabene juga uang rakyat?

Sebenarnya masih banyak lagi yang ingin kita bahas. Tapi efek dari jawaban jubir juga telah melemahkan semangat saya untuk menyelesaikan tulisan ini.

Jujur, saya tidak menduga kenapa tulisan saya bisa berakhir seperti ini.

Ilustrasi: Hananan

No comments:

Post a Comment