Muslim Ditindas dan Nostalgia Kewibawaan Penguasa Muslim Masa Lalu - bagbudig

Breaking

Friday, February 28, 2020

Muslim Ditindas dan Nostalgia Kewibawaan Penguasa Muslim Masa Lalu

Sejak Islam hadir hingga saat ini tercatat sudah banyak sekali penghinaan dalam ragam bentuk terhadap Islam dan kaum Muslimin. Jika di zaman Rasul banyak dalam bentuk penganiayaan fisik, namun, sekarang lebih dahsyat lagi. 

Di zaman Rasul, penghinaan dalam beragam bentuk itu datang dari senior-senior kafir Quraisy di antara mereka adalah Umar ibn Hisyam (Abu Jahal), Ummayyah Bin Khalaf, Abu Lahab dan Istrinya Ummu Jamil, al-Aswad az-Zuhri, al-Walid bin al-Mughirah al-Makhzumi dan sederetan tokoh-tokoh senior Quraisy lain.

Sejarah telah mencatat dengan baik perjalanan dakwah Rasul termasuk di dalamnya peristiwa-peristiwa pilu yang menyayat hati Baginda Rasul serta pengikut-pengikutnya kala itu.

Baginda Rasul dituduh gila, mempunyai ilmu sihir, pendusta, pembawa dongeng-dongeng lama dan sesat.

Al-Bukhari meriwayatkan dengan sanadnya kepada Urwah bin Zubair, ia berkata: “Aku bertanya kepada Abdullah bin Amru tentang hal yang paling menyakitkan yang dilakukan orang-orang Quraisy kepada Rasulullah, maka ia berkata: ‘Aku melihat Uqbah bin Mu’aith mendatangi Nabi yang sedang salat, maka ia meletakkan sorbannya di leher beliau dan kemudian mencekiknya dengan sangat kuat, maka datanglah Abu Bakar hingga berhasil mendorongnya dari beliau, lalu Abu Bakar berkata: Apakah kalian akan membunuh seseorang hanya karena mengatakan Tuhanku adalah Allah, dan ia telah datang kepada kalian dengan bukti-bukti nyata dari tuhan kalian.”

Diriwayatkan pula oleh Al-Bukhari dan Muslim dari hadist Ibnu Mas’ud ia berkata: “Ketika Rasulullah sedang salat di Ka’bah dan Abu Jahal duduk bersama teman-temannya, dan sehari sebelumnya ada beberapa unta yang disembelih, maka Abu jahal berkata: “Siapa di antara kalian yang mau pergi ke tempat sembelihan Bani fulan, lalu mengambil isi perutnya dan meletakkannya di pundak Muhammad ketika dia sujud?” maka bangunlah seseorang yang kurang ajar di antara mereka untuk mengambil kotoran onta tersebut lalu ketika Nabi sujud diletakkan di pundaknya, kemudian mereka menertawakannya, sementara aku hanya berdiri menyaksikannya. Jika saja aku memiliki kemampuan niscaya aku akan membuangnya dari pundak Rasulullah, akan tetapi beliau tetap sujud dan tidak mengangkat kepalanya, hingga seseorang pergi memberitahu Fathimah, lalu Fathimah datang untuk membuangnya, kemudian menemui mereka dan memaki mereka. Ketika Nabi selesai dari salatnya Nabi mendoa’kan kecelakaan untuk mereka dan mereka pun mati terkapar dalam perang Badar.”

Utaibah bin Abu Lahab juga turut menyakiti Nabi, ia merobek baju beliau dan meludahi wajahnya, namun ludahnya tidak mengenai wajah beliau, saat itu Nabi berdoa untuknya seraya berkata: “Ya Allah, kuasakanlah atasnya anjing dari anjing-anjing milikmu.” Doa beliau pun dikabulkan, Utaibah bin Abu Lahab dirobek-robek oleh binatang buas saat berada di Zarqa’ wilayah Syam. Lalu Ummu Jamil Arwa atau Aura’ bintu Harb, adik perempuan Abu Sufyan istri dari Abu Lahab berusaha untuk menyerang beliau dengan batu, maka Allah melindungi beliau darinya.

Suasana luka dan perih di Makkah tidak membuat Rasulullah dan segenap para sahabat patah arang dalam mengemban misi dakwah. Dalam situasi sempit Rasulullah dan segenap para sahabat berpikir bagaimana caranya keluar dari impitan kafir Qurasiy karenanya lahirlah ide hijrah ke Habsyah, percobaan hijrah ke Thaif dan akhirnya hijrah ke Madinah.

Penyiksaan dan penindasan oleh kafir Qurasiy di Mekkah menjadi salah satu faktor hijrah sebagaimana yang diungkapkan sahabat Bilal bin Rabah ketika hendak berhijrah seraya berdo’a: “Ya Allah timpakanlah laknatmu kepada Syaibah dan Utbah bin Rabi’ah serta Ummayyah bin Khalaf, sebagaimana mereka telah mengusir kami dari negeri kami.”

Dan juga ucapan Aisyah tentang alasan dari hijrahnya ayahnya ke Madinah: “Abu Bakar minta izin kepada Rasulullah untuk hijrah ketika gangguan terhadapnya semakin keras. Walaupun penindasan dan penganiayaan menyebabkan kaum Muslimin harus hijrah, namun yang pasti hijrah bukanlah bentuk kepengecutan dan kekalahan. Akan tetapi mundur selangkah untuk melompat lebih tinggi.

Setiba di Madinah Rasulullah disambut bak Pahlawan. Kaum Anshar menyambutnya dengan penuh suka cita dan riang gembira.

Di kota baru Madinah Rasulullah mula-mula menyusun strategi jitu. Membangun masyarakat Islam dan Negara Islam Madinah, membangun masjid, mempersaudarakan antara kaum Muhajirin dan Anshar serta membuat Piagam Madinah. Di Madinah posisi Rasulullah dan kaum Muslimin benar-benar menjadi kuat. segala bentuk penganiyaan dan penindasan hilang dengan sendirinya.

Setelah sukses gilang gemilang di Madinah, Makkah berhasil ditaklukkan tanpa perlawanan yang berarti. Ketika Madinah dan Makkah berhasil dikuasai oleh Rasulullah dan kaum Muslimin tak pernah terdengar lagi bentuk penindasan dan penganiyaan terhadap Islam dan Kaum Muslimin hingga sampai pada masa Khulafaur Rasyidin. Sungguh Rasulullah dan segenap para sahabat mulia telah berhasil menempatkan Islam pada tempat yang sebenarnya. Hingga kaum kafir bertekuk lutut.

Saat Khalifah Abu Bakar memerintah segala bentuk pembangkangan dan pemberontakan seperti menyebarnya nabi palsu dan penolakan pembayaran zakat dengan cepat dan sigap bisa dipatahkan.

Amirul Mukminin Umar bin Khattab juga berhasil menunjukkan kewibawaan Islam dan kaum Muslimin dengan keberhasilannya mengobrak-abrik kerajaan Persia dan Romawi.

Sungguh kala itu nama Khalifah Umar bin Khattab dan segenap panglima perang seperti Amr bin ‘Ash, Khalid ibn Walid serta Sa’ad bin Abi Waqqash adalah momok yang sangat menakutkan bagi musuh. Begitu pula dengan khalifah Ustman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib yang tidak diragukan lagi komitmennya dengan Islam.

Pada akhir abad ke 19, tahun 1980, ketika seorang penulis perancis, Henri de Bornier, membuat pentas drama komedi berisi penghinaan kepada Rasulullah, mendengar berita yang tidak menyenangkan itu Sultan Abdul Hamid mengirim surat kepada pemerintah Perancis agar melarang pementasan drama itu diseluruh Perancis. Perancis pun mengamini keberatan Sultan dengan melarang pementasan drama itu diseluruh Perancis.

Perancis membalas Sultan yang lebih kurang isinya “Kami percaya keputusan yang kami ambil sebagai pemenuhan atas keinginan yang mulia Sultan akan memperhangat hubungan di antara kita…”

Gagal pementasan di Perancis penulis itu mencoba keberuntungan di Inggris, dan Sultan pun mengetahuinya lantas mengirim surat agar pemerintah Inggris melarang. Maka pementasan itu pun dilarang. Padahal kala itu Inggris merupakan begara super power, walau demikian pemerintah Inggris meminta maaf kepada Sultan walau drama tak jadi dipentaskan.

Tidak puas sampai di situ, Sultan memanggil seluruh duta negara-negara Eropa yang ada di Daulah Khilafah Ustmaniyyah. Ketika mereka datang, sang Khalifah membiarkan mereka menunggu berjam-jam. Lalu Sultan datang menemui mereka dengan berpakaian militer sambil menjinjing sepatu dengan penuh wibawa dan berkata: “Seandainya Perancis tidak menghentikan tindakannya (pementasan drama yang menghina Nabi), niscaya akan aku kerahkan pasukan khilafah yang dengannya aku perlakukan mereka seperti sepatu yang ada ditanganku ini. Maka pergilah, semoga Allah menimpakan keburukan kepada kalian.” Demikian Sultan mengancam.

Mendapat ancaman dari Sultan para duta itu segera melaporkan kepada pemimpin mereka. Ratu Inggris yang kala itu sedang hamil mengalami keguguran terkejut mendengar ancaman serius dari Sultan.

Tidak mengherankan tiga tahun berselang, yaitu pada tahun 1893, ketika tersiar berita bahwa kota Roma Italia akan menggelar sebuah pementasan drama berjudul “Muhammaad at-Tsaniy”. Pemerintah Italia langsung membatalkan rencana tersebut.

Sungguh Sultan telah bersikap dengan sangat benar dan penuh keberanian yang membuat umat menjadi tenang dan bangga. Berbagai surat dan ucapan selamat dikirim dari seluruh dunia untuk Sultan atas sikapnya yang gagah berani membela kehormatan agama, bahkan sebagian kaum Muslimin mengadakan perayaan atas kabar gembira tersebut.

Namun kini masa-masa keemasan dan kewibaan itu tinggal kenangan. Pemimpin Muslim nan gagah dan berani menjadi barang langka. Kaum Muslimin tak lagi hidup sepenuhnya dalam bimbingan Islam. tak lagi dipimpin oleh pemimpin taqwa dan cerdas. Hari hari ini kaum Muslimin dipimpin oleh penguasa-penguasa lemah dan hidup terkotak-kotak dalam negara sekuler dan nasionalisme masing-masing.

Beberapa hari ini kita dikejutkan dengan tragedi pembantaian dan pembakaran masjid terhadap muslim India. Namun belum ada rekasi keras dari penguasa-penguasa muslim dunia, belum ada penguasa Muslim yang memutuskan hubungan diplomatik dengan India sebagai bentuk protes terhadap kezaliman yang  dilakukan oleh warga Hindu yang dipicu oleh UU kewarganegaraan India.

Mungkin sekarang kita bertanya kenapa kafirin terlalu berani dan semena-mena terhadap Islam dan kaum Muslimin? Boleh jadi Jawabannya adalah penguasa-penguasa Muslim dan mayoritas Muslim sekarang tidak serius dengan Keislamannya hingga Allah mencabut rasa takut musuh terhadap kita.

Sebagai Muslim marilah kita terus mengirim doa untuk saudara-saudara kita Muslim lainnya yang tertindas di berbagai belahan dunia. Dan semoga pula Allah menghadirkan pemimpin muslim yang berani membela Islam dan kaum muslimin layaknya pemimpin Muslim masa lalu. Semoga!

Editor: Khairil Miswar

Ilustrasi: visionofsid.com

No comments:

Post a Comment