Menjauh dan Kerinduan - bagbudig

Breaking

Saturday, February 29, 2020

Menjauh dan Kerinduan

Oleh: Musmarwan Abdullah

Kehidupan berjalan demikian dinamis. Orang-orang berpergian ke sana-kemari. Para penduduk merantau dari negeri; para perantau pulang ke negeri. Gempa bumi, penyakit wabah, dan gerhana matahari, pertanda nadi alam juga tak pernah henti berdenyut. Namun si anak muda dan orang tua kita tetap menyisihkan sedikit waktu mengisi pagi Minggu sambil minum kopi di warung tepian sawah persisian desa.

“Abu,” anak muda itu mulai mengajukan pertanyaan, “kenapa orang Cina suka merantau?”

“Mereka adalah orang-orang yang mencintai negerinya,” jawab lelaki tua itu.

“Merantau…, dan mencintai negeri…, sepertinya dua hal itu tidak korelatif. Bingung Anak Muda.”

“Ketika kamu sangat mencintai negerimu, namun pada saat yang sama negerimu tidak mampu mensejahterakan hidupmu, maka jika kau tetap bertahan di situ, kau akan cenderung menjadi perusak bagi negerimu.”

“Lalu mereka memilih merantau,” sela si pemuda.

“Benar,” sambung Abu. “Merantau adalah, di samping untuk mencari kesejahteraan, juga sekaligus untuk menciptakan kerinduan, yakni kerinduan pada negeri, kerinduan pada kampung halaman, kerinduan pada segala adat dan tradisinya. Baik atau buruk.”

“Jika mereka tak pulang-pulang sampai mati…,” potong si pemuda.

“Bagi para perantau, bukan pulangnya yang penting, tapi kerinduan akan negerinya. Dan sering kali kerinduan itu malah dibawa sampai mati. Kamu tahu apa arti kerinduan?”

“Ya, seperti kerinduanku pada gadis kampung tetangga yang kuperkenalkan pada Abu Minggu lalu sewaktu datang ke sini menukar buku bacaannya. Aku mencintainya; dia mencintaiku. Kalau kami jarang bertemu, kerinduan kami makin kuat. Jika kami sering bertemu, kadang-kadang kami malah bertengkar.”

“Nah, itu dia!” sela Abu. “Menjauh adalah menciptakan kerinduan. Kerinduan menguatkan cinta. Sering-sering bertemu malah memporak-porandakan segalanya.”

“Tetapi orang-orang yang saling mencintai akhirnya menikah dan hidup serumah, Abu.”

“Ya, mereka tetap saling mencintai, maksimal selama lima tahun pertama perkawinan. Setelah itu, yang mengikat mereka adalah semata-mata kepentingan dan saling ketergantungan (yang tercipta selama lima tahun pertama tadi).”

“Betapa konyolnya perkawinan ya Abu.”

“Begitulah kira-kira.”

“Apakah—sorry—hubungan Abu dan Ummi begitu juga?”

“Kita sedang membicarakan orang lain! Tidak sedang membahas diri sendiri!”

“Sorry Abu. Baiklah, ayo kita kembali ke Cina.”

“Ya, kita kembali ke orang-orang bermata sempit itu. Cina sangat mencintai negerinya. Tapi mereka terlalu ramai; berdesak-desakan (bikin mata semakin sipit saja). Sesubur apa pun tanah Cina, namun potensi konflik antarsesama selalu siap meledak. Banyak-banyaklah membaca tentang mereka. Cina adalah bangsa yang meninggalkan tulisan paling banyak. Tak ada detil tentang mereka yang luput dari tulisan. ‘Broeh-broeh putoeh’ pun mereka tulis, yang ratusan tahun kemudian membuktikan bahwa ternyata tulisan yang dianggap ‘broeh putoeh’ di suatu zaman justru menjadi jembatan penghubung antara peristiwa kolosal yang satu dengan peristiwa kolosal lainnya bagi generasi setelah itu.”

“Oke, siap, Abu!”

“Nah, bagi bangsa berambut lurus itu, daripada kecintaan kepada negeri hancur berantakan hingga membuat rambut mereka keriting oleh ekses konflik internal, lebih baik menghindari konflik sambil menjaga rambut tetap lurus buat mengabadikan persaudaraan sembari tetap memelihara imaji kecintaan kepada negeri. Syaratnya, ya…, itu tadi: merantau (di sini bermakna menjauh). Menjauh adalah menciptakan kerinduan. Kerinduan berarti memperkuat cinta. Ada pasangan suami-istri yang memilih bercerai justru untuk tetap menjaga perasaan saling mencintai.”

“Oya, Abu. Bukankah sejak dulu orang Padang juga suka merantau?”

“Ya. Kasusnya sama: mencari kesejahteraan di negeri lain sembari mengukuhkan imaji cinta pada negeri sendiri.”

“Bukankah sejak dulu orang Jawa juga suka merantau?”

“Ya. Sama saja kasusnya.”

“Orang Aceh juga suka merantau, Abu. Bukan hanya sejak dulu, tapi sampai sekarang masih suka berbondong-bondong ke Malaysia.”

“Ya, itu lebih baik. Daripada kalian menetap di Nanggroe yang tiap hari asyik merepet saja ke PLT Gubernur.”

Musmarwan Abdullah/FB

Sumber: Fb Musmarwan Abdullah

Ilustrasi: hurtigruten.com

No comments:

Post a Comment