Biarkan Politisi Sendirian - bagbudig

Breaking

Sunday, March 21, 2021

Biarkan Politisi Sendirian

Tanpa bermaksud menafikan peran dan “prestasi” politisi plus sikap politik mereka selama ini yang hahihu dan sulit ditebak, tulisan ini hanya sekadar mengingatkan diri sendiri agar tidak ikut-ikutan latah di pentas orang lain ~ pentas elite yang hampir sama sekali tidak berfaedah bagi kita-kita ini, yang selalu saja menjadi penggembira sesaat dan lalu kekal dalam kemurungan.

Sekali lagi, kita juga tidak menafikan kontribusi mereka dalam membangun negeri ini yang sebagiannya memilih menempuh jalan lurus demi kepentingan publik dan sebagian lainnya justru meluruskan jalan untuk bisa terbang lebih tinggi.

Uniknya, hiruk-pikuk politik yang melibatkan para politisi ~ yang dalam banyak hal hanya soal kepentingan pakwa dan miwanya justru hampir selalu mendapat respons publik ~ yang dalam praktiknya membelah mereka ke dalam dua kutub yang saling bertubrukan, hanya gara-gara lelucon para politisi yang tidak saja lucu, tapi juga menggelikan.

Di level nasional, aksi “kudeta” terhadap salah satu parpol ternama yang hampir-hampir dianggap mirip dinasti oleh “sekelompok” orang yang “orang itu” kemudian berdalih melakukan gerakan penyelamatan adalah salah satu isu terheboh untuk saat ini yang secara faktual telah turut berkontribusi pada menurunnya tensi kekhawatiran sebagian khalayak terhadap pandemi plus kontroversi soal vaksin yang dalam beberapa waktu terakhir menjadi perbincangan global.

Fenomena “persaingan” para mantan jenderal yang di masa purnabakti memilih meloncat ke dunia politik telah menjadi tren baru pasca reformasi, atau lebih tepatnya tren yang diperbarui setelah sebelumnya kita hidup dalam lakon Orde Baru yang sangat militeristik itu.

Jika dicermati, eksistensi mantan jenderal di dunia politik Indonesia tidak saja dimulai di era reformasi, tapi memiliki akar sejarah yang panjang. Uniknya di era reformasi, kontestasi mantan jenderal di pentas politik praktis justru semakin liar disebabkan ruang demokrasi yang kian terbuka. Munculnya beberapa partai politik yang dikomandoi para mantan jenderal di era reformasi adalah dalil utama untuk membenarkan klaim ini.

Terlepas dari fakta-fakta itu, kontestasi dengan gairah kekuasaan yang terus menyeruak akhir-akhir ini jelas-jelas merugikan publik yang kerap bergembira ria tatkala politisi dan parpol yang dulunya mereka dukung meraih kemenangan, tapi langsung saja tersungkur ketika harapan mereka hanya dianggap sebagai debu-debu oleh politisi yang dulunya dielu-elukan.

“Siapa pun yang menang rakyat tetap seperti biasa,” bukanlah anekdot belaka tapi ia terus berwujud dalam realitas, dari dulu, saat ini dan mungkin sampai nanti.

Dengan demikian menjadi sangat aneh dan bahkan absurd ketika masih ada sebagian publik yang mau saja berdendang di bawah panggung dalam rentak irama para politisi di atas pentas.

Aneh pula ketika ada para politisi yang sedang terjebak “konflik” demi kepentingan parpol, semisal dawa-dawi Partai Demokrat ~ publik justru ikut-ikutan latah membuang energi.

Perilaku demikian tak ubahnya seperti orang menimbun gunung dan di waktu yang sama melupakan kubang mereka sendiri sehingga mereka pun tertelan lumpur yang semakin dalam.

Sudahlah Tuan Puan, biarkan saja para politisi itu “saling makan satu sama lain.”

Tak perlu bermimpi untuk “membantu” mereka, sebab dalam mimpi-mimpi mereka, toh kita tak pernah ada.

Biarkan saja politisi sendirian. Biarkan saja. Serius, biarkan saja.

No comments:

Post a Comment