Kampanye Islamophobia dan Islamic Convertion Dunia Barat - bagbudig

Breaking

Saturday, January 23, 2021

Kampanye Islamophobia dan Islamic Convertion Dunia Barat

Sudah menjadi sunnatullah bahwa Islamisasi akan terus berlangsung secara alamiah karena faktor ajaran Islam yang sangat logis dan mudah diterima kaum intelek dan urban. Perkembangan Islam di dunia terus tumbuh secara pesat dimana populasi umat Islam saat ini berjumlah 1,7 Miliar jiwa. Pada tahun 2050 populasi muslim dunia diperkirakan akan mencapai 2,7 Miliar dan suatu saat umat Islam akan mendominasi penduduk planet bumi ini. Demikian Menurut data PEW Research Centre.

Secara geografis sebaran populasi Muslim dunia masih dominan di beberapa negara di benua Asia khsusnya Asia Tenggara yaitu Indonesia dan Malaysia, selain Asia tenggara Islam juga dominan di sejumlah negara di Asia Barat Daya yaitu Arab Saudi, Qatar, Yaman, Uni Emirat Arab, Yordania dan lain lain. Selain mendominasi benua Asia populasi muslim juga dominan di beberapa negara di benua Afrika seperti Mesir, Aljazair, Tunisia dan lain-lain. 

Populasi muslim yang mayoritas di benua Asia dan Afrika tidak berarti populasi Muslim tidak tumbuh di benua lain seperti benua Eropa. Di benua Eropa peradaban Islam pernah menoreh tinta emas kejayaan di Andalusia. Kejayaan peradaban Islam di Andalusia berkembang pesat saat orang-orang Eropa masih terbelakang sebagaimana diceritakan oleh sejarawan Jerman Thomas Scwahts, bahwa pada masa itu di setiap rumah warga muslim sudah dilengkapi dengan sanitasi, wc, dan kebersihan yang bagus, sedangkan orang-orang Eropa masih memakai bakiak (sandal yang terbuat dari kayu) yang sangat tinggi agar kaki mereka tidak terkotori oleh tinja dan air seni yang berserakan di jalan-jalan Eropa.

Kini setelah sekian abad Islam dihilangkan dari benua biru, yaitu pasca jatuhnya kerajaan Granada di Spanyol, indikasi-indikasi Islam akan bangkit dan akan menjadi agama mayoritas di benua Eropa mulai menunjukkan tanda-tanda yang menggembirakan hati. 

Tanda-tanda yang menggembirakan hati itu adalah tempat-tempat kecil yang digunakan untuk shalat dan kajian-kajian keislaman tidak lagi muat menampung banyaknya jamaah. Pada saat yang bersamaan banyak gereja-gereja yang tutup karena sepi jemaat dan beralih fungsi menjadi masjid. 

Harian Republika melansir dari Breibart pada 2 April 2017, The Gatestone Institute melaporkan terjadinya tingkat penutupan gereja-gereja di ibu kota Inggris Raya. Sehingga, banyak gereja-gereja yang kemudian dialihfungsikan menjadi masjid. dan menurut laporan tersebut saat ini kota London memiliki 423 masjid baru menggantikan 500 gereja yang telah ditutup.

Kondisi masjid yang semakin sesak oleh jamaah berbanding terbalik dengan kondisi gereja yang sepi jemaat, misalnya saja di Gereja San Giorgio, yang dibangun untuk menampung 1.230 jemaat, namun hanya 12 jemaat yang mengikuti misa. Demikian juga di Gereja Santa Maria, hanya ada 20 jemaat. Sedangkan di Masjid Brune Street Estate yang hanya muat menampung 100 jamaah, justru jamaahnya membludak. Apalagi hari Jumat, jamaah akan meluber sampai ke jalanan.

Begitu pesatnya arus Islamisasi di Barat sampai-sampai ada yang antre pada hari tertentu untuk masuk Islam. Hal ini sebagaimana disampaikan oleh diplomat RI Abdul Mun’im Ritonga KJRI Frankrut Jerman dalam program acara Ngeshare ustaz Fahmi Salim “Saya menyaksikan langsung bagaimana perkembangan Islam di Eropa, Bahkan, ada kejadian unik yang terjadi di Georgia USA, setiap sabtu, banyak orang ngantre untuk masuk Islam. Subhaanallah.

Bukan hanya jumlah populasi Muslim yang terus meningkat, muslim di Barat juga sudah mulai menduduki posisi penting di pemerintahan. Di Amerika Serikat misalnya, Sadaf Jaffer yang menjabat sebagai Wali Kota Montgomery, New Jersey, pada Januari 2019, merupakan muslimah pertama yang menjabat wali kota di negeri Paman Sam itu.

Contoh lainnya, Dr. Saud Anwar, yang pernah menjadi wali kota di South Windsor, Connecticut selama dua periode, kini menjabat Senator dari Partai Demokrat yang terpilih pada Februari 2019. Keith Ellison juga menjadi muslim pertama anggota Kongres AS.

Selain dua nama tersebut di atas, ada nama lain seperti Sadiq Khan yang berhasil menang dalam pemilihan wali kota London dan kini duduk sebagai wali kota London. Kini Inggris, selain memiliki wali kota Muslim juga merupakan negara eropa dengan populasi Muslim terbesar kedua setelah Kristen.

Menurut beberapa catatan perjalanan orang Indonesia yang tinggal di Inggris yang saya baca, menyebutkan bahwa Islam adalah agama terbesar kedua di United Kingdom berdasarkan sensus yang dilaksanakan oleh British Government pada tahun 2011, menempati angka 2,7 juta muslim atau sekitar 4.8% dari total populasi Inggris. Sedangkan di London, terdapat 1 juta lebih muslim atau sekitar 12% dari total populasinya. Dengan demikian London menjadi kota dengan populasi muslim terbanyak di Inggris diikuti Birmingham, Blackburn, Bredford, dan Luton. Karena populasi Muslim yang mencapai angka jutaan tak mengherankan jika saat ini di Inggris ada lima bank syariah yang beroperasi.

Bukan hanya di Eropa, Islam juga mengalami perkembangan yang cukup pesat di Amerika Serikat. Tirto.id melaporkan hasil penelitian dari PEW Research pada tahun 2007, 2011, dan 2017 dengan menggunakan data sensus pemerintah. Hasilnya populasi Muslim bisa menjadi komunitas relijius terbesar kedua di negeri Paman Sam dalam dua dekade ke depan.

Kampanye Islamophobia 

Perkembangan Islam yang begitu pesat di Barat bukan berarti tidak mengalami hambatan dan rintangan sama sekali. Seiring perkembangan Islam yang begitu pesat, pada saat yang sama pula kampanye Islamophobia terus digulirkan untuk mengkampanyekan ketakutan terhdap Islam dan menghentikan proses Islamisasi yang terus berlangsung. Pun demikian dengan warga Muslim di Barat yang kerap mengalami pelecehan dan perlakuan diskriminatif sebagai hasil dari kampanye Islamophobia yang terus digaungkan. 

Harian Republika meloporkan pada Sabtu 12 Mei 2012 dengan judul Kampanye Islamophobia, AS Kucurkan Puluhan Juta Dolar. Lebih rinci dalam berita tersebut dilaporkan bahwa tujuh yayasan di AS membiayai puluhan juta dolar proyek Islamophobia selama 10 tahun. Selain itu, disebutkan juga bahwa dalam mata kuliah militer di AS diajarkan bahwa Islam adalah musuh. Para instruktur juga mengajarkan makin fanatik seorang Muslim, maka semakin besar pula aksi kekerasan yang akan dilakukannya. Lebih lanjut pemberitaan itu menyebutkan Satu investigasi soal Islamophobia yang dilakukan satu lembaga AS terungkap, ada sekelompok Zionis yang didanai AS bertugas khusus untuk menyebarkan kebencian dan ketakutan terhadap Islam dalam bentuk buku, situs, blog, hingga laporan ilmiah.

Adalah Brenton Tarrant, pelaku teror penembakan brutal terhadap jamaah masjid Al Nur Slandia baru yang menewaskan puluhan jamaah. Dalam manifestonya ia memuji Donald Trump sebagai simbol idenditas kulit putih. Pujian itu diperkirakan karena Trump menggunakan sentiment agama saat kampanye. Aksi teror Brenton Tarrant sekaligus menunjukkan bahwa Islamophobia tumbuh dalam jiwa pemuda barat.

Buah simalakama Islamophobia

Menghadapi arus Islamisasi yang semakin pesat, dunia Barat dihadapkan pada dua opsi yang sulit dan serba salah. Menerima atau menolak arus Islamisasi dengan kampanye Islamophobia. Dan kelihatannya dunia Barat lebih memilih menolak dengan terus mengkampanyekan Islamophobia. Opsi menolak arus islamisasi dengan terus melakukan kampanye islamophobia sebenarnya justru mempercepat Islamisasi itu sendiri.  

Tragedi penyerangan gedung WTC (9/11) yang ditengarai pelakunya adalah gerakan Alqaeda pimpinan Osama bin Laden. Sejak saat itu kampanye Islamophobia terus digaungkan sampai saat ini. Sejak saat itu pula seluruh serangan teror, Alqaeda diklaim menjadi pelakunya.

Kampanye Islamophobia yang dibungkus perang melawan terorisme membuat citra Islam tersudutkan, media-media Barat secara terus menerus membangun opini dunia bahwa seakan-akan Islam dan ajarannya menjadi inspirasi terorisme dunia. Sehingga pasca tragedi tersebut banyak warga muslim AS yang mengalami perlakuan diskriminatif.

Seiring berjalannya waktu, kampanye Islamophobia ternyata tidak berhasil menghalau arus Islamisasi, justru mempercepat arus Islamisasi itu sendiri. Kampanye Islamophobia melalui berbagai media membuat islam semakin dikenal di dunia Barat. Beberapa tahun pasca serangan WTC warga Amerika berbondong-bondong masuk Islam yang dikenal dengan Islamic convertion. Data statistik menunjukkan paska tragedi WTC, ribuan rakyat Amerika masuk Islam setiap tahunnya. Saat ini, jumlah Muslim di Amerika diperkirakan telah mencapai 8 juta. 

Mengenai hal ini saya teringat cerita dari seorang dai Arab Saudi yang pernah mengisi seminar dakwah di salah satu hotel di Banda Aceh. Beliau berkisah saat memasuki desa-desa di pedalaman Eropa. Orang Eropa di desa sama sekali belum pernah mengenal Islam kecuali setelah peristiwa serangan 9/11. Akhirnya mereka penasaran dengan Islam dan mencoba mempelajari Islam dan menemukan bahwa ajaran Islam adalah ajaran rahmat berseberangan dengan isi kampanye Islamophobia, akhirnya mereka masuk Islam.

Sebaiknya dunia Barat welcome dengan pesatnya perkembangan Islam, karena jika barat menolaknya maka sama seperti menolak matahari terbit di waktu pagi.

Ilustrasi: Standleague

No comments:

Post a Comment