Pengalihan Hagia Sophia Picu Kemarahan Yunani - bagbudig

Breaking

Saturday, July 11, 2020

Pengalihan Hagia Sophia Picu Kemarahan Yunani

Yunani berniat untuk menjatuhkan sanksi terhadap Turki atas keputusannya yang mengembalikan landmark Hagia Sophia di Istanbul menjadi sebuah masjid. Demikian dilaporkan Yunani City Times pada hari Sabtu (11/7), ketika Presiden Turki Recep Tayyip Erdo─čan bermaksud menyerahkan kendali administrasi Hagia Sophia ke badan keagamaan negara Turki pada Jumat yang telah membangkitkan badai reaksi.

Erdogan menyerahkan kendali kepada badan keagamaan setelah pengadilan administrasi tertinggi negara itu membatalkan dekrit tahun 1934 yang mengubah situs yang disengketakan dari masjid ke museum.

“Erdogan membuat kesalahan bersejarah, kesalahan yang menciptakan jurang,” kata situs berita yang mengutip juru bicara pemerintah Yunani Stelios Petsas. “Yunani mengutuk tindakan ini dan akan melakukan segala daya untuk memberikan konsekuensi bagi Turki.”

Petsas mengatakan “Semuanya ada di atas meja dan kemungkinan sanksi tidak hanya dari Eropa tetapi juga dari organisasi internasional, seperti UNESCO”, tanpa memberikan rincian lebih lanjut tentang sifat dari bakal sanksi terkait Situs Warisan Dunia yang dilindungi UNESCO itu.

Hagia Sophia, awalnya dibangun sebagai katedral Kekaisaran Romawi Timur pada tahun 537, lalu diubah menjadi masjid setelah penaklukan Ottoman di Istanbul pada 29 Mei 1453 dan kemudian menjadi museum pada tahun 1935, pada masa-masa awal berdirinya Republik Turki.

“Siapa pun yang melanggar hukum internasional harus paham bahwa perilaku nakal sacam ini memiliki sanksi berat,” kata Petsas. “Masalah Hagia Sophia adalah masalah internasional. Satu-satunya yang pasti bahwa perilaku nakal dan penghinaan besar seperti itu harus memiliki balasan yang sama.”

Sementara itu, media melaporkan bahwa keputusan Turki yang mengubah katedral abad ke-6 Hagia Sophia di Istanbul dari museum menjadi masjid telah memicu kontroversi di seluruh dunia termasuk tuduhan bahwa Presiden Erdogan telah membingkai masalah ini secara berbeda berdasarkan pendukungnya.

Langkah itu telah memicu kontroversi, di mana sejumlah suara domestik dan internasional mengkritik Erdogan – tetapi beberapa suara dari organisasi yang berafiliasi dengan presiden dan sekutunya yang berafiliasi dengan Ikhwanul Muslimin menyatakan mendukung Erdogan.
 
Erdogan menuai kecaman karena telah membingkai aksi perubahan masjid secara berbeda dalam pengumuman bahasa Inggris dan Arabnya. Kantor presiden merilis dua surat yang ditandatangani Erdogan ketika mengumumkan deklarasi, tetapi pengamat dengan cepat mencatat bahwa konten bahasa Inggris berbeda dengan konten bahasa Arab.

Teks dalam bahasa Inggris berisi deklarasi yang jauh lebih damai dan berbicara tentang “warisan bersama umat manusia,” sementara dalan konten berbahasa Arab Erdogan menggambarkan langkah tersebut sebagai “realisasi dari janji [Sultan Ottoman] Mehmed II” dengan mengatakan bahwa “Kebangkitan Hagia Sophia adalah sebagai sinyal menuju pembebasan kembali masjid al-Aqsa,” situs suci umat Islam di Yerusalem.

Erdogan sendiri telah menolak kritik dan bersikeras bahwa Turki memiliki kedaulatan atas Hagia Sophia. Dia dituduh menyerang tradisi sekularisme yang telah lama ada di Turki.

Partai AKP Erdogan mempromosikan ideologi yang telah digambarkan sebagai “Islamis,” dan presiden telah membuat hubungan dekat dengan Ikhwanul Muslimin.

Beberapa analis melihat perubahan Hagia Sophia sebagai “momen puncak” dalam rencana Erdogan yang lebih luas untuk merevolusi Turki.

“Erdogan telah membanjiri ruang publik Turki dengan kebijakan pendidikan dan pemerintah yang merek Islam konservatif, dan Hagia Sophia adalah momen puncak revolusi agama Erdogan yang telah berlangsung di Turki selama lebih dari satu dekade,” kata Soner Cagaptay, Direktur program penelitian Turki di Institut Washington untuk Kebijakan Timur Dekat, kepada Reuters.

“Seperti halnya Ataturk hampir 100 tahun yang lalu ‘tanpa gangguan’ Hagia Sophia ditekankan sebagai komitmen terhadap revolusi sekuler, dengan mengeluarkan agama dari politik, sementara Erdogan kini melakukan hampir kebalikannya. Dia mengubah bangunan menjadi masjid untuk menekankan revolusi agama yang diusungnya,” tambahnya.

“Langkah yang disesalkan dari Presiden ini telah menjadikan Istanbul lebih miskin secara budaya. Ada lebih dari 3.000 masjid di Istanbul. Hagia Sophia lebih dari sekadar bangunan fisik, tapi itu adalah simbol pemersatu bagi berbagai agama,” demikian bunyi tweet komentator Emirat, Sultan Saoud Al-Qassemi.

Para pemimpin Kristen juga mengkritik keputusan itu, di mana seorang pejabat senior Ortodoks Rusia memperingatkan bahwa tindakan itu bisa mengarah pada “perpecahan yang lebih besar.”

“Sangat memalukan di mana keprihatinan Gereja Ortodoks Rusia dan gereja-gereja Ortodoks lainnya tidak didengar. Keputusan ini, sayangnya, tidak ditujukan untuk merekonsiliasi perbedaan yang ada, tetapi sebaliknya, dapat menyebabkan perpecahan yang lebih besar,” kata pejabat Gereja Ortodoks Rusia Vladimir Legoida kepada Reuters.

Gereja Ortodoks Rusia telah mengkritik para pemimpin Turki karena mencabut status museum Hagia Sophia di Istanbul yang merupakan “salah satu tempat suci umat Kristen terbesar,” dan menuduh Ankara telah bermain politik, lapor RT.

Didirikan oleh kaisar Kristen Justinian, Hagia Sofia ditahbiskan pada tahun 537, sebagai katedral Bizantium. Selama hampir seribu tahun, bangunan itu beroperasi sebagai sebuah gereja – kadang-kadang Ortodoks, kadang-kadang Katolik – sebelum dikonversi menjadi masjid pada tahun 1453, setelah kejatuhan Kekaisaran Bizantium.

“Sangat disayangkan kondisi politik tampak menang atas penghormatan terhadap tradisi agama lain,” kata Metropolitan Hilarion dari Volokolamsk, seorang uskup Ortodoks dan ketua Departemen Hubungan Gereja Eksternal di Rusia.

“Bagi umat Kristen Ortodoks, Hagia Sophia sama dengan Basilika Santo Petrus di Roma untuk umat Katolik,” katanya, seraya menambahkan bahwa situs itu adalah “salah satu tempat pemujaan Kristen terbesar.”

Peristiwa itu juga mendapat reaksi negatif dari para politisi Rusia, di mana Senator Konstantin Kosachev mengklaim bahwa hal itu “akan memicu respons yang sangat negatif di seluruh dunia Kristen.”

Kosachev, ketua Komite Urusan Luar Negeri di Dewan Federasi, mengatakan bahwa Ankara akan “dipandang sebagai pelanggar keseimbangan agama” dan “akan kehilangan kekuatannya.”

Sementara itu langkah tersebut juga telah menyebabkan protes yang meluas, Presiden Erdogan mengumumkan bahwa masjid akan tetap terbuka untuk pengunjung lokal dan asing, “Muslim dan non-Muslim,” katanya.

Sekretaris jenderal sementara Dewan Gereja Dunia telah menulis kepada presiden Turki untuk menyatakan “kesedihan dan kegelisahannya” atas keputusan Turki yang mengubah status Hagia Sophia dari museum menjadi masjid.

Sebagai museum Warisan Dunia, “Hagia Sophia telah menjadi tempat terbuka, pertemuan, dan inspirasi bagi orang-orang dari semua bangsa,” kata Loan Sauca dalam surat yang dirilis Sabtu oleh kelompok yang berbasis di Jenewa.

Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Yves Le Drian juga mengatakan Prancis “menyesalkan” keputusan Turki atas Hagia Sophia. “Keputusan ini melemparkan keraguan dan salah satu tindakan paling simbolis dari Turki modern dan sekuler,” kata menteri itu dalam sebuah pernyataan.

“Integritas agama, arsitektur, perhiasan bersejarah, simbol kebebasan beragama, toleransi, dan keragaman, yang terdaftar sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO, harus dilestarikan,” katanya. “Hagia Sophia harus terus mewakili pluralitas dan keragaman warisan agama, dialog, dan toleransi. ”

Tetangga Kristen Turki, Siprus, juga mengkritik langkah itu. Ini adalah penodaan historis terhadap monumen Warisan Dunia yang bernilai khusus bagi orang-orang Kristen di dunia,” kata Presiden Siprus Nicos Anastasiades.

“Hagia Sophia telah menjadi milik Turki, masjid, dan warisan dunia sejak 1453. Keputusan untuk menggunakannya sebagai masjid dan pada saat yang sama untuk dikunjungi sebagai museum terdengar menyenangkan,” kata Perdana Menteri Ersin Tatar.

Sumber: Saudi Gazette

Ilustrasi: Istanbul Travel

Terjemahan bebas Bagbudig.com

No comments:

Post a Comment