Tragedi Simpang KKA - bagbudig

Breaking

Saturday, May 2, 2020

Tragedi Simpang KKA

Insiden kecil di Desa Cot Murong, Kecamatan Dewantara, Kabupaten Aceh Utara pada Jumat malam tahun 1999 berakhir dengan banjir darah yang kemudian dikenal dengan Tragedi Simpang KKA. Saat itu, di antara massa yang menghadiri dakwah Aceh Merdeka (AM) ditemukan seorang anggota ABRI bernama Sersan Adytia. Sersan itu ditangkap oleh masyarakat yang menghadiri dakwah. Namun setelah diinterogasi akhirnya sang sersan dilepas dengan baik-baik.

Anehnya, setelah dilepas, anggota ABRI tersebut sampai dengan hari Minggu tidak juga kembali ke markasnya. Saat itu muncul isu bahwa sang sersan disandera oleh kelompok AM.

Akibatnya, Markas Den Rudal 100 yang merupakan tempat kesatuan Sersan Adytia melakukan pencarian di Desa Cot Murong dan sekitarnya yang disebut-sebut sebagai lokasi penculikan terhadap Adytia. Saat pencarian oleh aparat tersebut, beberapa penduduk sempat dipukuli oleh oknum tentara.

Insiden pemukulan itu kemudian tersebar dari mulut ke mulut sehingga menimbulkan rasa antipati dari sebagian warga. Saat itu juga tersebar isu bahwa pasukan Den Rudal akan menyerbu Cot Murong untuk mencari temannya. Hal itu kemudian menimbulkan berbagai spekulasi dari warga. Sebagai bentuk solidaritas, ribuan warga, termasuk wanita dan anak-anak berkumpul di Simpang KKA dan di depan Koramil Dewantara.

Saat itu, di sepanjang jalan juga ditebar halang rintang sehingga memacetkan arus lalulintas. Sekitar pukul 10 WIB pada hari Senin (3 Mei 1999) ribuan massa mulai bergerak. Sampai di Simpang KKA mereka diadang oleh pasukan Yonif 113. Pada saat bersamaan di depan Makoramil juga berkumpul sejumlah massa.

Saat itu tidak ada ketegangan berarti. Kononnya pasukan Yonif yang mengadang massa juga terlihat sabar dan bersahabat. Mereka berdialog dan berseloroh dengan massa. Pasukan tempur tersebut juga tidak memegang senjata dalam posisi siap tembak. Senjata M-16 itu cuma mereka sandang. Suasana saat itu juga terkendali, terlebih lagi massa di bagian depan terdiri dari wanita dan anak-anak.

Tidak lama kemudian dari arah jalan negara Banda Aceh – Medan muncul satu truk tentara memasuki Simpang KKA yang diduga dari Den Rudal 100 sehingga posisi ribuan massa itu pun berada di tengah. Dari arah depan mereka diadang oleh Yonif 113 dan dari arah belakang satu truk tentara yang baru tiba di lokasi. Anehnya saat itu tidak terlihat ada personel polisi yang mengatur arus lalulintas.

Suasana mulai gaduh ketika di belakang massa muncul lemparan batu. Tidak jelas siapa yang memulai. Namun menurut saksi mata saat itu dari massa dan truk terjadi saling lempar dan sumpah serapah.

Akibatnya suasana mendadak panas. Pasukan Yonif 113 yang berada di depan massa tak mampu berbuat banyak karena keributan terjadi di belakang, tepatnya antara persimpangan KKA dan jalan negara.

Tiba-tiba saja muncul rentetan tembakan sehingga massa kocar-kacir. Sebagian massa berjatuhan bersimbah darah dan sebagian lainnya lari menyelamatkan diri. Suara tembakan yang berasal dari truk tentara terus menyalak beberapa menit sampai ribuan massa bubar dengan sendirinya. Saat itu tembakan langsung diarahkan kepada massa.

Yang terdengar kemudian adalah suara rintihan, raungan minta tolong dan sumpah serapah. Darah berceceran di mana-mana, di jalan dan rerumputan. Mereka yang terkapar merintih-rintih dan sebagian lainnya rebah tak bergerak. Menurut sejumlah sumber, di antara puluhan massa yang meninggal sebagiannya meninggal langsung di lokasi. Umumnya mereka terkena tembakan di organ tubuh yang vital.

Insiden setelah Zuhur itu terdengar sampai ke Masjid Bujang Salim yang tidak jauh dari Pasar Krueng Geukueh. Masjid yang awalnya tenang itu tiba-tiba tegang. Massa yang berada di sekitar masjid berlari mencari perlindungan. Mereka bertahan di masjid sampai kondisi aman. Untuk menenangkan situasi seseorang mengumandangkan azan kembali yang juga terdengar sampai Simpang KKA.

Berbeda dengan Simpang KKA, kondisi di depan Markas Koramil Dewantara cukup terkendali. Mereka mendatangi Koramil untuk menanyakan kenapa tentara keluar masuk kampung dan mengasari penduduk. Karena tidak mendapat jawaban memuaskan massa akhirnya membakar ban dan benda lainnya hingga mengepulkan asap hitam, tapi tidak ada korban jiwa. Sebagian dari massa inilah yang menuju ke Simpang KKA hingga terjadi insiden selepas Zuhur.

Anak-Anak

Di antara korban yang meninggal dan luka dalam Tragedi Simpang KKA adalah anak-anak dan wanita. Menurut saksi mata, saat kejadian, anak-anak dan wanita memang berbaur dengan massa. Bahkan saat terdengar rentetan tembakan serombongan anak-anak dan wanita melintasi Masjid Bujang Salim sambil bertakbir. Mereka berlindung ke dalam masjid.

Entah sengaja atau tidak, massa yang menuju Simpang KKA dilapisi barisan anak-anak dan wanita yang umumnya berada di bagian depan.

“Kami sudah tak mau menjadi janda dan anak-anak kami tak boleh menjadi yatim. Kalau ditembak biar kami yang kena duluan,” kata seorang ibu yang berada di lapisan depan saat diadang Yonif 113.

“Kalau kami sudah mati baru boleh laki-laki kami ditembak. Daripada jadi janda seperti kawan-kawan yang lain,” tambah wanita itu.

Menurut warga, formasi dengan menyusun anak-anak dan wanita di barisan depan memang disengaja untuk menghindari bentrokan. Menurut mereka, aparat tidak akan merasa terancam dengan wanita dan anak-anak. Dan saat itu kerusuhan memang tidak terjadi di depan yang dipenuhi wanita dan anak-anak, tapi dimulai di belakang yang didominasi oleh massa laki-laki.

Dalam Tragedi Simpang KKA itu 41 orang meninggal dunia dan 153 cedera.

*Disalin dan diedit seperlunya dari artikel Banjir Darah di Krueng Geukuh.

Sumber: Tabloid Kontras No. 31 Tahun I, 5-11 Mei 1999.

Ilustrasi: Tabloid Kontras No. 32 Tahun I, 12-18 Mei 1999.

No comments:

Post a Comment