Pidie Sepanjang Abad - bagbudig

Breaking

Wednesday, May 6, 2020

Pidie Sepanjang Abad

Oleh: Muhammad*

Berbicara tentang “Negeri” Pidie memang terlalu luas sisi dan hal menarik yang akan kita temui, semenjak dari Kerajaan Pedir berkuasa hingga dengan abad modern kini. Perjalanan sejarah yang sangat panjang, kebudayaan yang mengakar, karakteristik hingga tokoh-tokoh besar yang pernah dilahirkan, membuat Pidie memiliki khas dan karisma tersendiri.

Sejarah Pidie
Pidie sebelumnya adalah Kerajaan Pedir yang tangguh dan perkasa, berdiri pada abad ke-15, kerajaan otonom di bawah kesultanan Aceh Darussalam. Sebelumnya, Kerajaan ini dinamai Kerajaan Sama Indra, waktu itu mereka masih menganut paham agama Budha Mahayana atau Himayana. Oleh M. Junus Djamil diyakini dari agama ini kemudian masuk pengaruh Hindu. Pada pertengahan abad ke-14 Masehi penduduk di Kerajaan Sama Indra beralih dari agama lama menjadi pemeluk agama Islam, setelah kerajaan itu diserang oleh Kerajaan Aceh Darussalam yang dipimpin Sultan Mansyur Syah (1354 – 1408 M).

Selanjutnya, pengaruh Islam yang dibawa oleh orang-orang dari Kerajaan Aceh Darussalam terus mengikis ajaran Hindu dan Budha di daerah tersebut. Setelah kerajaan Sama Indra takluk pada Kerajaan Aceh Darussalam, sultan Aceh selanjutnya, Sultan Mahmud II Alaiddin Johan Sjah mengangkat Raja Husein Sjah menjadi sultan muda di negeri Sama Indra di bawah Kerajaan Aceh Darussalam. Kerajaan Sama Indra kemudian berganti nama menjadi Kerajaan Pedir, yang lama kelamaan berubah menjadi Pidie seperti yang dikenal sekarang.

Prof. D. G. E Hall dari Inggris, dalam bukunya “A History of South East Asia”, menggambarkan Pidie sebagai sebuah negeri yang maju pada akhir abad ke-15. Hal itu berdasarkan catatan seorang pelawat eropa, Ludovico di Varthema, yang pernah singgah di Pidie pada akhir abad-15. Dalam catatan Varthema, sebagaimana dikutip Muhammad Said dalam buku “Wajah Aceh dalam Lintasan Sejarah”, pada abad tersebut Pidie yang masih disebut sebagai Negeri Pedir merupakan sebuah negeri maju yang setiap tahunnya disinggahi sekurang-kurangnya 18 sampai 20 kapal asing, untuk memuat lada yang selanjutnya diangkut ke Tiongkok, Cina. Dari pelabuhan Pedir juga diekspor kemenyan dan sutra produksi masyarakat Pidie dalam jumlah besar. Karena itu pula, banyak pendatang dari bangsa asing yang berdagang ke pelabuhan Pedir. Hal ini mengakibatkan pertumbuhan ekonomi warga pelabuhan waktu itu meningkat. Bahkan varthema menggambarkan di sebuah jalan dekat pelabuhan Pedir, terdapat sekitar 500 orang penukar mata uang asing.

Dalam catatannya, Varthema juga mengatakan takjub terhadap negeri Pedir yang saat itu sudah menggunakan uang emas, perak, dan tembaga sebagai alat jual beli, serta aturan hukum yang sudah berjalan dengan baik, yang disebutnya “Strict Administration of Justice”.

Konon, sibuk dan padatnya aktivitas masyarakat pada masa itu kemudian berpengaruh dalam penamaan Kota Sigli sebagai pusat pemerintahan Pidie yang asal katanya diambil dari bahasa Arab, yaitu “Syighlun” (sibuk) yang kemudian diadopsikan dalam bahasa lokal dengan sebutan “Sigli”.

Khenduri muloed
Selain kaya dengan nilai-nilai historis, Pidie juga mumpuni dengan pesona tradisi dan budayanya. Hal ini bisa ditandai dengan masih terjaganya kelestarian tradisi-budaya pada masyarakat Pidie, salah satunya adalah tradisi “khenduri muloed” yang diadakan selama tiga bulan berturut-turut dengan konsep membina silaturahmi dan harmoni sosial yang erat dalam masyarakat. Pada dasarnya Khenduri Muloed di Pidie hampir sama dengan daerah yang lain, namun di Pidie ada sedikit perbedaan.

Prosesi Khenduri Muloed di Pidie diadakan dengan tiap-tiap tempat atau gampong yang berbeda waktu antara satu dengan yang lainnya, kemudian mengundang gampong tetangga untuk berhadir menikmati hidangan khenduri tersebut di Meunasah gampong. Proses ini selanjutnya berputar ketika gampong tetangga yang mengadakan khenduri muloed maka giliran gampong tetangga ini datang untuk hadir bersilaturahmi kembali.

Hal yang paling khas dalam acara maulid ini adalah nasinya yang dinamai bu kulah. Nasi ini berupa nasi putih yang dibungkus dengan daun pisang yang telah dilayu/diasapi, sehingga aromanya khas. Nasi maulid ini biasa disantap dengan gulai-gulai khas Aceh seperti gulai ayam kampung, ‘Sie Iték’, ditambah menu kecil lainnya seperti sambal goreng udang, Boeh Iték MasenKuah Asam Keu’uengKeumamah, sayur tumis dan sedikit buah-buahan segar.

Bu kulah bersama lauk pauknya diantar warga ke meunasah dalam bentuk idang meulapeh di dalam dulang (dalong) lalu dihidang dan disantap bersama. Setelah mengadakan khenduri muloed, untuk memeriahkan acara tak jarang juga di malamnya masyarakat gampong akan mengadakan ceramah agama guna mengenang kembali kisah Nabi Muhammad Saw di momen hari maulid, dan biasanya kegiatan ini dipelopori oleh persatuan pemuda gampong setempat dalam mempersiapkan acara. Bahkan, di momen hari itu juga biasanya para perantau ikut pulang kampung untuk menikmati waktu bersama keluarga dan kerabatnya.

The Black Chinese (Cina hitam)
Kemudian, ada fakta lain tentang masyarakat Pidie yang tak kalah menarik. Pidie dikenal sebagai “Cina Hitam” (The Black Chinese) dari Aceh. Ini barangkali merujuk kepada prestasi mereka yang dianggap menyamai prestasi kesuksesan ekonomi dan perdagangan bangsa Cina yang sebenarnya. Putra kelahiran Pidie dikenal luas sebagai orang yang sukses di perantauan, tidak hanya sebagai pedagang atau pengusaha tetapi juga politisi yang mendapat kedudukan penting di birokrasi pemerintahan.

Mengapa Cina Hitam? Diidentikkan dengan bangsa Cina karena Cina dikenal senang bermigrasi ke seluruh dunia, yang akhirnya sukses dan mandiri secara ekonomi. Tibalah kemudian pada kesimpulan bahwa kegigihan orang Pidie itu sama dengan eksistensi dan kegigihan bangsa Cina. Tradisi migrasi di Pidie sudah dikenal sejak lama, baik level lokal Aceh, nasional bahkan mancanegara. Sehingga tidak heran orang Pidie tersebar di seluruh pelosok Aceh, di luar Aceh bahkan luar negeri sekali pun.

Fenomena merantau telah mengakar di kalangan pemuda Pidie, selain melatih kemandirian juga jalan mencari kesuksesan dalam mengubah nasib menuju arah yang lebih baik. Dan sebagaimana sejarah leluhur, generasi Pidie juga dikenal andal di dalam ilmu dagang. Seakan-akan ini telah menjadi darah abadi yang mengalir di setiap garis generasi Pidie.

Pidie Kriet
Di antara beragam keunikan dan tradisinya yang khas, ada satu hal yang tak bisa dipisahkan dari Pidie dalam pandangan masyarakat luar. Iya, “Pidie Kriet” atau Pidie pelit yang begitu melekat. Kapan dan dari mana asal muasal istilah tersebut? Pada dasarnya, ada pendapat yang menyatakan bahwa falsafah orang Pidie yang hidup mandiri di perantauan memiliki sikap rajin dalam hal menabung, bahkan cenderung hemat layaknya orang Cina karena ingin berinvestasi untuk kebutuhan masa yang akan datang. Kemudian lambat laun dari sikap inilah, berkembang dan memunculkan stigma atau sentimen negatif dari masyarakat luar dengan sebutan“Pidie Kriet” atau Pidie pelit.

Akan tetapi ada fakta lain yang mengatakan bahwa label “Pidie Kriet” sejatinya hanyalah sebuah trik politik adu domba yang dulu digaungkan oleh seorang stafsus Belanda, Snouck Hucronje pada masa penjajahan dengan tujuan untuk menciptakan permusuhan dan perpecahan di kalangan sesama rakyat Aceh. Hal ini bisa dilihat tidak hanya di Pidie, tetapi juga pada masyarakat yang lain terdapat stigma yang demikian. Di Meulaboh misalkan, ada sentimen; “Bek jak u Meulaboeh diboeh do’a hana get” (Jangan pergi ke Meulaboh digunakan doa tidak baik/santet).

Namun, pada kenyataannya benarkah masyarakat Pidie bersifat demikian? Jawabannya tentu saja tidak, secara umum kita dapat menemukan bahwasanya orang pelit itu terdapat di mana saja bahkan seluruh dunia. Malahan di Pidie semboyan “Adat geutanyoe peumulia jamee” sangat diaplikasikan oleh masyarakat dalam memuliakan kehadiran seorang tamu. Bahkan terkadang apabila mereka tidak memiliki uang, rela berutang ke sana ke mari demi melayani seorang tamu yang datang. Dengan melihat fakta yang demikian, pada hakikatnya slogan Pidie Kriet hanyalah sebuah prasangka sosial belaka yang dikumandangkan dari mulut ke mulut oleh orang-orang yang tak melihat secara nyata kejadian sebenarnya.

Tokoh-Tokoh Besar Dari Pidie
Beranjak dari perjalanan sejarah yang panjang, Pidie juga dikenal sebagai salah satu daerah yang vital dalam melahirkan sosok pahlawan, intelektual andal, ulama, dan politikus besar. Bahkan semenjak era kolonial Belanda, Pidie termasuk salah satu wilayah yang memiliki catatan sejarah apik dalam melakukan perlawanan terhadap Belanda. Bahkan ketika konflik antara GAM (Gerakan Aceh Merdeka) dengan Republik Indonesia, Pidie memiliki andil yang sangat besar di mana ketika GAM pertama kali dilahirkan di Gunung Halimon, pada tanggal 4 Desember 1976.

Kendati sektor utama penggerak perekonomian masyarakat Pidie adalah pertanian, namun ini bukan berarti pola pikir, semangat dan cara pandang mereka sangat tertutup dan terbelakang, sebagaimana lazimnya masyarakat agraris. Mereka bahkan berpikir lebih maju, visioner, dan bercita-cita tinggi. Implementasi sikap inilah yang kemudian melahirkan tokoh-tokoh besar dalam lintasan perjalanan sejarah Pidie. 

Dalam masa kolonialisme Belanda, Pidie melahirkan sosok pahlawan yang ditakuti oleh penjajah yaitu Tgk Chik di Tiro. Tgk Chik di Tiro Muhammad Saman (Tiro, Pidie, 1836 – Aneuk Galong, Aceh Besar, Januari 1891) adalah seorang pahlawan nasional dari Aceh. Teungku Muhammad Saman adalah putra dari Teungku Syekh Ubaidillah. Sedangkan ibunya bernama Siti Aisyah, putri Teungku Syekh Abdussalam Muda Tiro. Ia lahir pada tahun 1836, bertepatan dengan 1251 Hijriah di Dayah Jrueng Kenegerian Cumbok Lamlo, Tiro, Pidie, Aceh. Beliau dibesarkan dalam lingkungan agama yang ketat.
Kemudian selain itu, sosok Tengku Daud Beureueh juga salah tokoh yang tersohor sepanjang sejarah Indonesia. Beliau termasuk salah satu pejuang kemerdekaan Indonesia dan Gubernur Aceh.

Selanjutnya ada nama-nama seperti; Tgk Hasan Krueng Kalee (ulama besar era kemerdekaan), Muhammad Hasan di Tiro (Wali Nanggroe Aceh), Prof. Ibrahim Hasan (mantan Menteri Negara Urusan Pangan Indonesia), Dr. Ir. Mustafa Abubakar (mantan Menteri Badan Usaha Milik Negara Indonesia), Dr. Hasballah M Saad (mantan Menteri Negara Urusan Hak Asasi Manusia), dr. Husaini M. Hasan (mantan Sekretaris Neugara Aceh), dr. Zaini Abdullah (mantan Gubernur Aceh), Dr.(H.C.) Sanusi Juned, Ph.D (mantan Menteri Besar Kedah ke-7, Malaysia), Ismail Hassan Metareum (mantan Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat), Ibrahim Richard (mantan pengusaha Aceh di Indonesia), Prof. Warul Walidin (Rektor UIN Ar-Raniry), Farid Nyak Umar (Ketua DPRK Banda Aceh) dan sederet nama-nama lainnya. Setidaknya itulah sebagian nama-nama tokoh yang lahir dari rahim Pidie, berdarah negeri Pedir.

Beranjak dari serangkaian perjalanan negeri Pedir, memang selalu ada cerita yang unik dan menarik. Semua elemen terkumpul menjadi satu, baik sejarah, tradisi, budaya, pemikiran hingga keberhasilan anak negeri di perantauan. Sebagaimana kata Imam Asy-Syafi’i;

“Merantaulah! Orang berilmu dan beradab tidak diam beristirahat di kampung halaman. Tinggalkan negerimu dan hidup di negeri asing (di negeri orang).”

Sebuah falsafah yang menjadi identitas khas dari Negeri Pedir.(*)

Rabu, 06 Mei 2020

Editor: Khairil Miswar

No comments:

Post a Comment