Pondok Lali Jiwo, Resort Terindah di Asia Zaman Hindia Belanda - bagbudig

Breaking

Tuesday, March 10, 2020

Pondok Lali Jiwo, Resort Terindah di Asia Zaman Hindia Belanda

Oleh: Iwan Agung Prasetyo

Asal-Usul nama Hutan Lali Jiwo di Gunung Arjuno/Welirang

Beberapa bulan lalu dunia pendakian gunung kembali berduka atas hilangnya Faiqus Syamsi, asal Surabaya. Beliau hilang ketika mendaki Gunung Arjuno voa jalur Tretes – Pasuruan. Diberitakan kalau dia hilang di area Lembah Kijang – Puncak Arjuno, dan sampai sekarang belum ditemukan.

Berbagai usaha dari Tim SAR, baik yang resmi maupun pribadi hasilnya nihil. Seperti yang diketahui, hutan pinus di atas pos pondokan-Lembah Kijang sampai memutari Gunung Arjuno dinamakan Hutan Lali Jiwo (Hutan Lupa Jiwa/Diri). Sebuah nama yang cukup “mistis”.

Bagi para pendaki gunung Jawa Timuran atau pun yang lainnya yang pernah mendaki gunung ini, hutan ini dikenal mistis. Banyak cerita-cerita mistis berkaitan dengan hutan ini dan juga beberapa pendaki lain yang hilang tidak diketahui rimbanya.

Namun tak banyak yang tahu bahwa penamaan “Lali Jiwo” ini diciptakan oleh seorang pegawai perusahaan dagang Fraser Eaton di Surabaya yang bernama Duncan Clonie MacLennan pada masa Hindia Belanda (tidak diketahui tahunnya secara pasti). Dia berasal dari Scotlandia.

Dia sebelumnya mempunyai pondokan (villa) di Tretes-Pasuruan, lalu membeli tanah sedemikian luasnya di lereng Gunung Arjuno dan menjadikannya perkebunan berbagai komoditi. Setelah resign dari Frasor Eaton, dia meneruskan usaha perkebunannya, tinggal bersama istrinya Annaa Kovacic (asal Austria, berprofesi sebagai penari) di pondokannya di Tretes.

McLennan memiliki hobi berburu. Di sela-sela kesibukannya dia sering masuk hutan jauh tinggi di atas Tretes ke arah puncak Arjuno/Welirang untuk mencari binatang buruan.

Karena jauhnya dia berburu dan medannya yang sulit untuk kembali ke Tretes, akhirnya dia punya ide untuk membangun sebuah pondokan di ketinggian 2500mdpl. Lalu dibangunlah pondokan tersebut dan diberi nama “Pondok Lali Jiwo.”

Sebenarnya kata “Lali Jiwo” bagi McLennan tidak ada kaitannya dengan hal-hal mistis. Maksudnya adalah “keindahan alam yang ada di area pondokannya membuat orang lupa diri (Lali Jiwo) untuk kembali pulang.” Maklum saja Mc Lennan seorang Scotland yang tentu saja tidak terlalu memperhatikan kaidah-kaidah bahasa lokal (Jawa) pada waktu itu. Lama-kelamaan nama Pondok itu menjadi nama dari hutan itu.

Lalu Mc Lennan membuat jalur pendakian dari Tretes ke Pondokannya yang baru. Dia juga mempromosikannya ke warga kulit putih yang ada di Surabaya. Dalam waktu sekejap Pondok Lali Jiwo menjadi populer di kalangan warga kulit putih di Jawa Timur. Bahkan gaungnya sampai Eropa.

Pondok Lali Jiwo dipromosikan oleh sebuah agen wisata Koninklijke Paketvaart Maatschappij [maskapai paket wisata Kerajaan (Belanda)].

“Kami naik ke Lali Jiwo, empat jam jalan kaki dari Tretes. Dari sana kami mendaki ke kawah. Perjalanan kembali tidak butuh waktu lama, sehingga kami bisa mencapai hotel di Prigen sebelum gelap. Jika banyak waktu, datanglah ke Lali Djiwo sebelum sore dan nikmati matahari terbenam. Malam hari, habiskan seluruh waktu di luar untuk menikmati cahaya bulan seraya menunggu matahari terbit.”

Kemudian jadilah Lali Jiwo sebagai Resor (villa/tempat peristirahatan) terindah se Asia.

Waktu terus menggelinding, teknologi mobil sudah diciptakan dan diproduksi massal. Jalan baru Surabaya – Prigen l-Tretes dibangun, sehingga akses ke Lali Jiwo lebih mudah. Banyak orang-orang kaya di Surabaya dan Jawa Timur membangun villa-villa di sekitar Prigen sampai Tretes. Tetapi Mc Lennan dan Istrinya tidak menyaksikan itu. Mereka tinggal di Pondok Lali Jiwonya, di ketinggian 2500mdpl sampai akhir hayatnya tahun 1929.

Pers Austria menulis perlu adanya pelacakan ahli waris Mc Lennan-Kovacic. Pelacakan butuh waktu yang lama dan melibatkan banyak orang, tetapi tanpa hasil. Pers Belanda menulis kalau ahli warisnya telah menjual tanah tersebut ke Pemerintah Hindia Belanda.

Sekitar tahun 1940an Jalur pendakian Tretes-Lali Jiwo diperlebar dan diberi batu-batu makadam sehingga mobil-mobil lebih mudah mencapai tempat ini sehingga semakin ramai dan berpotensi merusak alam.

Seorang pembaca De Indische Courant menulis: “Saya yakin siapa pun setuju dengan saya bahwa Lali Jiwo sedang menuju kerusakan, ketika mobil dengan mudah mencapai tempat ini. Lereng gunung tidak lagi sepi, tapi bising oleh klakson mobil. Lali Jiwo bukan lagi tempat yang membuat orang lupa diri. Satu-satunya resor gunung yang terisolasi akan hilang, dan menjadi kawasan wisata biasa-biasa saja.”

Pondok Lali Jiwo ini benar-benar tidak ada lagi setelah era kemerdekaan. Tidak ada bekas bangunan atau pun sekadar sisa-sisa pondasinya. Bahkan masyarakat sekitar tidak ada yang tahu (atau mungkin saya sendiri yang tidak menemukan orang yang tahu lokasi pondokan ini). Yang dikenal oleh masyarakat sekitar, instansi terkait maupun para pendaki/pencinta alam adalah Alas Lali Jiwa, yaitu hutan sebelum ke Puncak Gunung Arjuno/Welirang, atau merujuk ke sebuah sabana luas di bawah Puncak Arjuno yang bernama Lembah Kidang (Lembah Kijang) yang juga merupakan wilayah hutan Lali Jiwo.

Dan Hutan ini kini adalah sebuah hutan yang “disegani” oleh para pendaki Gunung Arjuno yang terkenal dengan cerita-verita mistisnya. Ditambah lagi kalau menuju ke Puncak Arjuno, akan bertemu dengan sebuah tanah lapang, terdapat dua buah makam tanpa tulisan nama di nisannya. Area ini disebut “Pasar Dieng” atau “Pasar Setan.”

(Disarikan dari berbagai sumber, terutama dari https://sportourism.id/history/lali-jiwo-dulu-resor-terindah-di-asia-kini-wisata-kaya-mistis ).

Sumber tulisan dan foto: FB Iwan Agung Prasetyo.

Editor: Bagbudig.com.

No comments:

Post a Comment