Pendemi Menyerang, Pemerintah Hilang, Suwa Empire pun Datang  - bagbudig

Breaking

Sunday, March 29, 2020

Pendemi Menyerang, Pemerintah Hilang, Suwa Empire pun Datang 

Oleh: Bung Alkaf

Selama empat dekade, orang Aceh berhadapan dengan tiga fase genting dalam hidupnya. Konflik, Tsunami dan Pendemi. Dua yang saya sebut pertama, dilalui dengan baik. Penuh perhitungan.

Ketika konflik, orang Aceh menjadi salah satu wilayah di Indonesia yang sangat artikulatif dalam membicarakan dirinya, terutama dalam hal kedaulatan politik. Beragam cara dilakukan. Latihan perang, kursus politik, lobi internasional, membangun gerakan sipil, sampai duduk semeja untuk membicarakan perdamaian. 

Begitu juga ketika tsunami. Struktur sosial masyakarakat Aceh yang kolektif serta adanya solidaritas global, mampu membuat orang Aceh keluar dari kemelut itu. Saiful Mahdi, dalam disertasinya tentang modal sosial, membicarakan hal itu. Ketika bantuan barak untuk menampung korban tsunami tidak memadai, orang Aceh yang menjadi korban lalu kembali kampung halaman masing-masing. Itu modal sosial, katanya.

Kini apabila kita lihat kembali gambar wilayah yang pernah dihantam tsunami di waktu sekarang ini, pasti megejutkan. Perbaikan yang terjadi tidak pernah terbayangkan. Begitu juga dengan pembangunan manusianya. Ada peningkatan. Terutama munculnya kelas terdidik yang pesat. 

Namun, tidak dengan Covid 19 yang telah menjadi pendemi. 

Cara orang Aceh menghadapi pendemi ini tidak seperti biasanya. Kita tidak lagi melihat ada entitas yang siap sedia dan kuat mempertahankan dirinya. Pendemi membuat semuanya kalang kabut. Bahkan mungkin, modal sosial, seperti pengalaman tsunami lalu, seperti tidak berfungsi. Celakanya, di saat semua kalangkabut, kita dikejutkan oleh pernyataan Juru Bicara (Jubir) Pemerintah Aceh, yang mengatakan kalau mereka mempersiapkan kuburan massal, bagi korban pendemik. Semua orang marah membaca pernyataan itu. Jubir pun meminta maaf.

Kemarahan publik ini dirasa wajar. Di saat Pemerintah Provinsi lain sibuk meyiapkan segala kebutuhan dasar, untuk mengadang pendemi, sekaligus membangkitkan rasa optimisme publik, di Aceh malah sebaliknya. Di media sosial lalu beredar, bagaimana Plt Gub, yang selama ini dicari-cari keberadaannya oleh publik, berjalan mengawasi tanah yang dikeruk, sebagai tanah masa depan untuk mereka yang meninggal karena pendemi.

Khairil Miswar, penulis prolifik, dalam satu esainya di media ini memberi makna dari kuburan massal itu sebagai bentuk fatalistik dari Pemerintah Aceh. Bagi yang akrab dengan studi Ilmu Kalam, pastilah memahami apa yang disebut dengan sikap fatalistik, yang merupakan lawan dari paham free will, atau kebebasan berkehendak. Sedangkan fatalistik sikap pasrah, karena meyakini bahwa semua hal yang terjadi, sudah diatur oleh Tuhan. Manusia hanya wayang. 

Tentu, selain itu, kita melihat dengan terang, Pemerintah Aceh juga gagap. Tidak ada terobosan besar yang dilakukan. Padahal Aceh merupakan daerah paling belakangan yang ditemukan pasien positif Covid 19.

Lalu di saat kita melihat pemerintah yang serba gugup itu, secara bersamaan, masyarakat melakukan hal di luar penalaran ilmiah, yaitu ketika beramai-ramai, membakar obor (suwa) dan berkeliling kampung, sambil melafalkan bacaan yang diyakini akan melempar jauh-jauh pendemi. Kita rupanya, masih berada, seperti dikatakan Mochtar Lubis dalam pidato kebudayaannya, Manusia Indonesia, masyarakat yang masih percaya takhayul. 

Kini, hidup kita terimpit pada dua hal, satu sisi kita melihat pemerintah yang tidak cakap, di sisi lain kita berhadapan dengan masyarakat yang abai terhadap keselamatan diri karena masih percaya pada sesuatu yang tidak sejalan dengan penalaran ilmiah. Kita tentu mempertanyakan, di mana posisi agamawan ketika hal tersebut berlangsung. Walau belakangan, kita mulai melihat beberapa agamawan memberikan nasihat sesuai dengan penalaran ilmiah dalam bersikap selama masa pendemik ini. 

Pendemi ini memang tidak diketahui kapan akan berakhir. Lalu akan seperti apa setelah semua ini berakhir. Apa akan ada yang berubah? Begitulah pertanyaan yang terus terlontar sekarang. Salah seorang intelektual publik, yang sering saya simak pikirannya, Win Wan Nur menulis soal hubungan pendemi dan terbentuknya tatatanan dunia baru. Namun, diakui, bahwa  dia juga tidak tahu bagaimana semua ini akan berakhir. Dia yang memiliki seperangkat pengetahuan pun, angkat tangan mengenai bagaimana pendemi ini akan berlangsung. Semua seperti menunggu. Gelap. 

Tetapi, yang pasti sampai tulisan diselesaikan, kemarin saya masih melihat suwa empire berlalu lalang di jalan. Tidak tahu malam ini, atau malam besok.

Ilustrasi: The Atlantic

No comments:

Post a Comment