Aku, Anak Miskin, Yang Ingin Sukses - bagbudig

Breaking

Tuesday, March 17, 2020

Aku, Anak Miskin, Yang Ingin Sukses

Oleh: Arifudin

Dahulu, sekitar 23 tahun lalu, saya dilahirkan pada hari kamis, 21 Januari 1996. Saat itu saya terlahir ke dunia, saya tidak bisa memilih ingin lahir dari keluarga seperti apa, siapa dan bagaimana mereka.

Namun, saya akan bisa menentukan langkah selanjutnya. Keluarga seperti apakah yang aku ingin terbangun kelak, saya akan bisa memutuskan rantai kesulitan, sehingga cukup sampai disini saja saya merasakan bagaimana diremehkan orang, makan seadanya, bagaimana susahnya mengenyam pendidikan bagi saya yang tidak terlahir dari keluarga mapan. Yang tak semapan dengan orang di luar sana.

Biarkan hati ini, “lapang” dan “ikhlas” menerima segala ketentuan dariNya, karena kenikmatan dan kesuksesan hanya untuk orang-orang yang pandai bersyukur.

Bagiku, Tuhan tidak pernah berniat buruk terhadap hambaNya.

Karena di mata Tuhan, kita hambaNya yang tangguh. Kita bisa berjuang lebih keras, berusaha lebih cerdas dan berdoa lebih giat. Tuhan tidak menjatuhkan-Mu, namun Dia memberimu kesempatan yang besar agar kamu bisa mengejar mimpimu tanpa embel-embel nama besar orang tua, kamu bisa mengejar kesuksesanmu dengan berdiri di atas kaki sendiri tanpa berlindung di bawah ketiak keluarga.

Mungkin, tak jarang segala keluhan kerap-kali mewarnai hari, sesekali menyalahkan kondisi keluarga kita untuk setiap kegagalan yang diterima. Kamu tidak bisa mengenyam pendidikan di tempat yang kamu inginkan karena orang tua tidak mempunyai biaya yang cukup untuk itu, kamu tidak mempunyai jaringan dengan orang penting karena orang tuamu bukan siapa-siapa di mata mereka, dan banyak hal lain yang kamu lemparkan pada nasib orang tuamu. Bahkan hingga menyalahkan Tuhan.

“Tuhan, mengapa orang tuaku bukan seorang pejabat, dokter atau pengusaha?”

“Mengapa saya harus tumbuh bersama keluarga yang tidak mapan?”

“Mengapa harus mereka?”

Dan sejuta pertanyaan mengapa lainnya, yang membuat dadamu sesak. Seakan tidak ada rasa kebanggaan terhadap orangtuamu yang telah berjuang begitu keras agar kehidupanmu lebih baik dari mereka.

Padahal , siapapun orang tuamu. Entah itu hanya seorang sopir biasa, buruh, tukang, kuli atau petani. Mereka tetap seseorang yang hebat. Karena semua perkataan dan do’a mereka akan didengar Tuhan, tanpa melihat jumlah kekayaannya, tingkat pendidikan, profesi apalagi jabatannya. Maka, peliharalah hubungan baikmu dengan orang tua. Hubungan baikmu dengan orang tua akan menentukan besarnya keberkahan hidup yang kamu dapat.

Rif, kan! Banyak orang sukses yang berjuang dari nol, lahir dari penderitaan dan cacian.

Oh, ya…ya! Betul juga.

Pohon yang tumbuh besar itu berawal dari biji yang kecil, gedung tinggi yang dikagumi itu berawal dari sebongkah bata. Proses yang panjang dan tidak mudah itulah ternyata menjadikan sesuatu yang menakjubkan. Dan orang-orang sukses yang kamu lihat pun memiliki cerita dukanya sendiri. Bahkan mungkin lebih duka dari hal hal yang paling duka dalam hidup kita.

Lebih menderita dari kita yang seringkali merasa menjadi orang paling menderita sedunia. Mungkin kita hanya direndahkan, tapi mereka dicaci, diludahi, bahkan harga dirinya diinjak-injak. Mungkin kita hanya makan tempe atau mi seadanya, tapi mereka pernah hanya makan dengan garam dan singkong bahkan merasakan tidak makan berhari-hari.

Mungkin kita hanya mempunyai orang tua sederhana, namun mereka bahkan kehilangan orang tua mereka dan hidup sebatang kara. Bedanya, mereka menjadikan itu semua sebagai pelecut untuk bisa sukses. Mengubah nasib mereka dan mengangkat derajat keluarga mereka. Bukan dengan mengutuki diri, hanya mengeluh tanpa berbuat apa apa. Lalu dikalahkan oleh keadaan.

Maka Kau Rif, .. Segeralah bertindak, karena waktu akan terus bergerak tanpa pernah menunggu kita. Tanpa pernah menunggu kesiapan kita.

Rif, Gapailah kesuksesanmu bukan untuk dirimu sendiri!

Semua kesuksesan yang dicapai, bukan semata mata karena kerja keras kita sendiri. Melainkan ada peran kuat dari orang-orang terdekat kita, ada do’a orangtua yang tidak pernah lelah meminta pada Tuhan, ada ribuan liter keringat yang sudah dikorbankan orang tua, hanya agar kehidupan kita lebih baik dari mereka. hal itu tidak mereka lakukan dengan mudah.

Karena mereka bekerja bukan duduk di atas kursi empuk, namun di atas tanah kotor nan lembap, bukan di dalam ruangan sejuk ber-AC melainkan di bawah terik matahari. Yang semua itu hanya agar kita bisa mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi dari mereka, agar kita bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih bagus dari mereka, agar kita bisa menikmati kehidupan yang lebih baik dari mereka. 

Walaupun di belakang mereka tidak berjejer gelar sarjana, walaupun pekerjaan mereka dipandang rendah oleh orang, dan segala perjuangan yang tidak pernah melihat apakah panas atau hujan, sehat atau sakit, mudah atau sulit hingga tak peduli siang atau malam. Mereka akan melakukan yang terbaik untukmu.

Dan untuk semua pengorbanan itu, masihkah kau tidak merasa bangga? Masihkah kau sekolah atau kuliah dengan malas malasan? Masihkah kau bekerja dengan main-main? Tidak adakah keinginan menjadi orang yang berprestasi, berkepribadian baik dan sukses, agar mereka merasa bahagia karena perjuangan mereka untukmu ternyata tidak sia-sia. Melainkan dengan tepat dan berbuah manis.

Niatkan semua kesuksesanmu untuk mereka Rif, simpanlah foto keluargamu di meja belajar atau meja kerja. Sehingga ketika kamu ingin menyerah dan kamu jenuh dengan semua yang kamu alami, kamu selalu menemukan alasan mengapa kamu harus bangkit berkali-kali.[]

Rabu, 18/03/2020

Editor: Khairil Miswar

No comments:

Post a Comment