Persatuan Islam (Persis) Sebagai Gerakan Tajdid - bagbudig

Breaking

Saturday, February 15, 2020

Persatuan Islam (Persis) Sebagai Gerakan Tajdid

Ditinjau dari perspektif sejarah, kemunculan gerakan-gerakan modern dalam Islam tidak terlepas dari spirit tajdid yang begitu berpengaruh pada awal abad 20. Beberapa gerakan Islam yang muncul pada masa itu, selain mengusung ide-ide modern, juga membawa semangat pemurnian agama dari hal-hal yang dianggap melenceng.

Persatuan Islam (Persis) adalah salah satu gerakan Islam yang muncul di Indonesia kala itu. Salah satu tokoh Persis yang paling berpengaruh dan dikenal khalayak adalah A. Hasan. Pikiran-pikiran keagamaan A. Hasan begitu populer karena dianggap “radikal.”

A. Hasan termasuk salah seorang pembaru dan pemikir produktif di Indonesia pada masanya. Tidak hanya sebagai pemikir, dia juga seorang penulis yang cukup produktif.

Pada 1929 A. Hasan memimpin Majalah Pembela Islam dan juga memimpin Majalah Al-Lisan pada 1935. Dengan ketekunan A. Hasan, kedua majalah itu cukup terkenal sehingga membawa pengaruh positif bagi Persis. Bahkan pengaruh Persis yang luas saat itu disebabkan oleh intelektualitas sosok A. Hasan yang aktif menulis di majalah dan menerbitkan sejumlah buku.

Sepeninggal A. Hasan, perjuangan Persis dilanjutkan oleh anak dan murid-muridnya. Salah seorang putranya, Abdul Qadir, kemudian aktif mengisi rubrik tanya jawab tentang fiqih di Majalah Al-Muslimun. Meskipun majalah ini tidak terikat dengan Persis, namun tetap membawa semangat Persis.

Abdul Qadir, putra A. Hasan/ Foto: Panjimas, 1984

Sebagai amal usaha, Persis juga memiliki beberapa lembaga pendidikan yang kurikulumnya juga membawa semangat pemurnian. Di Pesantren Persis Bangil, misalnya, para santri tidak diajarkan fiqh, tapi mereka dididik untuk bisa mengupas persoalan hukum dari Al-Quran dan Hadits. Hal ini dimaksudkan agar para santri tidak taqlid kepada siapa pun.

Dalam melaksanakan pendidikannya, Persis membuka ruang terjadinya diskusi dan juga tegur-menegur antara murid dan guru. Pola ini sering kali membuat Persis dicap sebagai organisasi radikal. Persis juga dinilai terlalu tajam dan ekstrem dalam mengkritisi adat istiadat kaum tradisionalis.

Pesantren Persis 1984/ Panjimas, 1984

Dalam konteks politik, sejak awal berdirinya Persis tidak melibatkan diri dalam politik praktis. Hal inilah yang menyebabkan Persis tetap bisa bertahan, meskipun organisasi tersebut tidak pernah menjadi organisasi besar seperti Muhammadiyah.

Sumber: Majalah Panji Masyarakat, No. 423, Tanggal 21 Februari 1984.

Ilustrasi: Wikipedia

No comments:

Post a Comment