Mari Berpolitik Santun - bagbudig

Breaking

Friday, February 7, 2020

Mari Berpolitik Santun

Oleh : Arifudin

Di tahun 2020 kita dihadapkan dengan Pemilihan Kepala Daerah (PILKADA) secara serentak. Bahkan sekarang “tensi politik” sudah mulai merayap naik. Kontestan PILKADA, baik pasangan calon, partai politik, maupun masyarakat pendukung diharapkan tidak terbawa emosi dan bisa menjadi kontestan yang cerdas, antara lain dengan membudayakan politik santun. Politik santun adalah politik yang  sejalan dengan budaya yang kita miliki, yaitu politik yang berakhlak, beretika, bermoral dan bermental kuat.

Berpolitik secara santun dapat dibangun dari berbagai pemikiran filsuf seperti Socrates, Plato, dan Aristoteles dapat dijadikan rujukan berpikir. Socrates seorang filsuf yang mendasarkan pemikiran politiknya pada nilai-nilai kesantunan. Di samping itu Socrates juga menjelaskan bahwa politik adalah the art of the possible.

Begitu pula ketika merujuk pada pemikiran Plato, yang mana Plato mendasarkan pada prinsip membangun masyarakat adalah hal yang utama dan politik adalah jalan menuju perfect society. Berpolitik secara santun harus didasari oleh prinsip–prinsip yang jelas agar tidak menimbulkan bias kesantunan politik. Prinsip politik santun dapat berjalan jika setiap pasangan calon menanamkan prinsip objektivitas, rendah hati dan open mind.

Bahkan Dahl dalam Nurwahid (2007) telah berpendapat bahwa konsolidasi demokrasi menuntut etika politik yang kuat yang memberikan kematangan emosional dan dukungan yang rasional untuk menerapkan prosedur-prosedur demokrasi.

Mari kita semua berpolitik santun, itu saja. Dibutuhkan etika yang patut di muka publik. Apalagi bila kita kerap tampil dan dikenal publik. Dan yang penting paham juga etika berkomunikasi di media.

Kita tidak anti kritik, justru yang kita tak setuju kritiknya yang dibumbuhi  melebihi menu kritik itu, main hantam dengan kata bubarkan. Kesan yang bisa ditangkap publik adalah kata terakhir itu, bukan substansi kritik.

Kita semua setuju kritik itu hal yang penting dan sebagai oksigen demokrasi. Tapi, kritik perlu untuk cermin introspeksi diri. Tetapi kritik yang tembak sana tembak sini, rasanya sudah bukan lagi tujuan dari kritik itu. Tapi, sudah mengarah ke pembusukan dan pembentukan opini negatif.

Perasaan kita tak perlu membenci apalagi memusuhi pengkritik. Tetapi kita ingin menggugah sikap kritiknya  agar lebih pas dan lebih patut. Takarannya tepat dan sebaiknya tak  menyuburkan hal-hal yang berbauh kebencian.

Dulu hingga sekarang para kontestan sering melanggar etika dalam berkampanye, seperti menggunakan tempat ibadah, membagi-bagikan uang atau sembako. Para kontestan harus tahu mana yang pantas dan tidak pantas karena hal itu juga merupakan bagian dari etika berpolitik. Tanpa kesantunan akan merugikan kontestan itu sendiri dan dapat menyeret negara pada konflik yang merusak kesatuan bangsa.

Mari berpolitik santun dalam Pilkada agar bisa melahirkan kader-kader yang memiliki sifat kenegarawanan. Medan politik memang keras, saling sikut-menyikut untuk merebut kekuasaan. Namun bukan berarti berpolitik santun tidak bisa dilakukan.

Para kontestan di Pilkada  tetap dapat meyakinkan hati masyarakat untuk memilihnya tanpa harus meninggalkan kesantunan dalam berpolitik. Jangan jadikan kesantun sebagai “topeng” untuk mendulang dukungan konstituen. Kontestan memberikan pencitraan agar terlihat santun namun akhirnya setelah menang dan menduduki jabatan menjadi koruptor. Persaingan dalam dunia politik antarkontestan di Pilkada memang menjadi hal yang biasa dan tidak bisa dihindarkan. Kita berharap para kontestan bersaing untuk kepentingan daerahnya yang tercermin dalam kesantunan mereka berpolitik dan menghindari cara-cara kotor dalam memperoleh kekuasaannya. Dalam menerapkan politik santun dapat dimulai dengan cara-cara sederhana, seperti menjaga lisan agar tidak melontarkan kata-kata kasar yang tidak senonoh agar harmonisasi juga terjaga. Berhati-hati dalam berdebat dengan lawan politik, serta memilih dan memilah bahasa yang baik dan benar dalam berkampanye.

Untuk menciptakan pesta demokrasi yang bermartabat sangat dibutuhkan kesantunan dalam berpolitik. Karena sesungguhnya yang menjadi senjata ampuh setiap paslon kepala daerah adalah visi dan misi. Masing-masing paslon pada akhirnya berperang menunjukan kualitas melalui visi dan misi yang dimilikinya. Visi dan misi menjadi bagian yang tak terpisahkan dari keberhasilan dan kemenangan paket kepala daerah.

Bahkan ketajaman visi dan misi itu menjadi tolok ukur untuk menarik simpati masyarakat. Dan setiap pasangan calon kepala daerah sejatinya mampu menguasai visi dan misi yang akan menjadi pedoman dan arah pembangunan daerah selama masa kepemimpinannya. Visi dan misi mereka yang mampu diterima dan menyentuh kebutuhan hidup masyarakat luas.

Calon yang baik biasanya tahu persis permasalahan daerah yang akan dipimpinnya sehingga menawarkan program yang realistis. Selain itu pemilih yang cerdas adalah menentukan pilihan pada calon yang mendengarkan bukan didengarkan.

Hal ini yang perlu diperhatikan oleh paslon pilkada adalah tim sukses dan relawan. Keberhasilan paket dalam memenangkan pilkada tidak terlepas dari sistem kerja tim sukses dan relawan. Untuk itu, tim sukses maupun relawan juga harus bekerja berpedoman pada prinsip yang dibangun dalam politik santun.

Di sini yang berperan adalah tim sukses dan relawan yang harus menguasai strategi di lapangan. Untuk tidak terjadi “gesekan” atau “benturan” di lapangan sangat diharapkan agar aspek kesantunan dalam berpolitik mejadi pedoman dalam berpolitik. Jauhi yang namanya Black Campaign sehingga pesta demokrasi tidak menimbulkan konflik.

Hendaknya setiap pihak harus mampu berjiwa besar menerima setiap hasil akhir proses politik nantinya. Setiap pasangan calon pun harus mampu menjaga profesionalitas, tidak mengedepankan emosi, bertindak atas kesadaran penuh serta pertimbangan yang matang. Walahu’alam bisha’wab.

*Penulis adalah Direktur Lembaga Pengkajian dan Pendidikan Pancasila (LP3)

Editor: Khairil Miswar

No comments:

Post a Comment