Kunjungan Hamka ke Pulau Penyengat - bagbudig

Breaking

Sunday, February 9, 2020

Kunjungan Hamka ke Pulau Penyengat

Oleh: Khairil Miswar

Tulisan ini berasal dari artikel Hamka di Majalah Mingguan Hikmah yang terbit pada 17 April 1954. Dalam tulisan itu Hamka berkisah tentang kunjungannya ke Pulau Penyengat, Riau.

Kata Hamka, di Pulau Penyengat ini 200 tahun lalu pernah bersemayam Yam Tuan Muda Riau. Pulau ini merupakan pulau kecil yang terletak di Riau. Keberadaan Pulau Penyengat ini dapat dilihat dari arah Tanjung Pinang. Kata Hamka, pulau ini di masa lalu pernah menjadi pusat kedua dari Kerajaan Riau-Lingga.

Menurut Hamka, tempo dulu wilayah Riau terbentang sampai ke daratan Singapura. Pada awal abad ke 19, melalui trik politik yang digunakan Raffles, Singapura akhirnya berhasil lepas dari kekuasaan Riau dan berada beralih pada kekuasaan Inggris.

Pulau Penyengat sendiri yang saat itu dikuasai Yam Tuan Muda lebih dekat ke Singapura, khususnya pada masa pemerintahan Radja Muhammad Jusuf yang berkuasa selama 42 tahun.

Pada tahun 1954, Hamka berkesempatan melakukan kunjungan ke Pulau Penyengat. Perjalanan Hamka waktu itu menggunakan motor boat dengan waktu tempuh hanya sepuluh menit dari Tanjung Pinang.

Ada kegembiraan yang dirasakan Hamka ketika dia berhasil berlabuh di Pulau Penyengat, sebuah pulau yang pernah menjadi saksi kemegahan sosok legenda Hang Tuah dan juga pembela bagi kebudayaan Melayu.

Pulau Penyengat sekarang
Foto: batasnegeri.com

Namun, sampai di pulau itu, Hamka juga merasa kecewa sebab situs sejarah itu sama sekali tidak terawat. Di pulau itu Hamka mendapati reruntuhan istana yang pernah berjaya di masa lalu, tumpukan batu yang telah ditumbuhi lumut dan kuburan yang tidak terpelihara.

Hamka juga mendapati tanah kosong di samping mesjid yang merupakan bekas sebuah madrasah besar yang guru-gurunya didatangkan dari Mesir. Tapi saat Hamka berkunjung, madrasah itu sudah tidak ada lagi.

Hamka juga menemukan banyak kitab-kitab klasik di sebuah pustaka yang sudah tidak terpelihara. Hamka sangat menyayangkan kondisi kitab-kitab tersebut, sebab itu adalah warisan yang semestinya dijaga agar tidak musnah.

Pada saat Hamka berkunjung ke sana, tepatnya pada tahun 1954, Pulau Penyengat hanya dihuni oleh ratusan penduduk yang berbahasa Melayu.

Sumber: Majalah Hikmah, 17 April 1954.

Ilustrasi: Majalah Hikmah, 1954.

Foto: batasnegeri.com

No comments:

Post a Comment