Dari Rancông ke Jalan Gandhi - bagbudig

Breaking

Friday, February 7, 2020

Dari Rancông ke Jalan Gandhi

Oleh: Haekal Afifa

Sorot matanya tajam. Bicaranya tegas. Dia selalu berjalan tanpa alas kaki. Menegaskan bahwa hidupnya keras dan penuh liku, sekali pun tak pernah mengkhianati tanggung jawabnya.  Pertengahan tahun 1989, dia ditangkap dengan tuduhan terlibat Aceh Merdeka, gerakan yang dianggap makar oleh Pemerintah.

Tuduhan itu mengantarkan laki-laki dengan rambut ikal memanjang ini ke Kamp Penyiksaan di Lhoksukon. Ia ditangkap oleh pasukan khusus atas nama Operasi Jaring Merah. Dia diinterogasi, dengan target agar dia mengaku bahwa ada seorang Ulama Kharismatik di Aceh (Pantonlabu) terlibat hal yang sama.

Ulama itu, biasa kami panggil Abu.
Baginya, melindungi Abu bukan sekadar tanggung jawab biasa tapi menjadi kewajiban. Bukan hanya karena Abu seorang ulama, tapi lebih dari itu. Baginya, Abu adalah orangtuanya. 

Karena tak mengakui, lantas dia dijebloskan ke Kamp penyiksaan Rancông, Lhokseumawe. Tempat jagal yang dikenal ganas untuk wilayah Aceh Utara. Bangunan yang sekarang ini sudah dirobohkan, terletak di Kawasan PT. Arun LNG, tepatnya di bibir pantai yang saat ini di kenal dengan Pantai Semadu, Rancong.

Pada satu kesempatan, ia pernah bercerita bagaimana dia disiksa di kamp ini. “Ini kuku kaki dan tangan yang dicabut, lalu diberi cuka,” ungkapnya sambil memperlihatkan kuku-kukunya. Di Kamp ini pula, batok kepalanya menjadi retak akibat hantaman popor senjata. Bahkan, di badannya terdapat bekas sundutan rokok para pembegal. Delapan bulan lebih, dia mendekam di Kamp Rancông ini dengan berbagai siksaan sadis yang ia terima.

Setelah berbagai upaya yang ditempuh oleh Abu, maka pertegahan tahun 1990 dia dilepaskan. Dan, untuk menyelamatkan puluhan bahkan ratusan nyawa rakyat Aceh yang lain saat itu (khususnya Aceh Utara), Abu bergabung dengan Partai Penguasa berlambang Beringin hijau. Banyak orang tidak paham, bahwa seorang ulama masuk dalam partai politik penguasa dulu semata-mata untuk menyelamatkan orang lain dari penghilangan paksa, penculikan, penangkapan dan penyiksaan. Seperti yang dialami oleh anak angkatnya itu.

Tidak bertahan lama. Awal tahun 1990, Laki-laki yang memiliki lima nama julukan itu kembali ditangkap. Dia dibawa oleh Pasukan Khusus saat sedang berkebun di depan rumah Abu, dalam Komplek Dayah Putri. Tidak ada yang tahu. Karena sesaat sebelum diambil paksa, anak-anaknya sudah berpamitan untuk pergi mengaji di masjid pusat kota, dan istrinya sedang berada di rumah.

Berbulan-bulan, kabar kehilangannya baru diketahui. Ternyata, dia dibawa ke Kamp Penyiksaan di Jalan Gandhi, tempat jagal paling mengerikan seantero kota Medan. Sebelum menjadi rumah tahanan, bangunan yang terletak di Jalan Gandhi, Medan Area ini merupakan sebuah sekolah yang didominasi oleh kaum Pecinan Medan. Di Medan, tempat yang sekarang sudah berubah menjadi salah satu restoran megah tersebut dikenal sebagai Penjara Jalan Gandhi.

“Hampir setiap malam, kami dimandikan di Kolam Lintah,” ucap laki-laki itu sambil mengingat. Ya, Penjara Gandhi dikenal angker dengan kolam yang dipenuhi lintah dan tinja (kotoran) manusia ini sebagai tempat penyiksaan para tahanan politik yang dianggap subversif oleh Orde Baru. Di Penjara Gandhi pula, dia disiksa atas kursi setrum hingga terpental beberapa meter.

Kamp Gandhi ini menjadi semacam tempat penahanan transit sebelum dibawa ke Penjara lain. Biasanya, di penjara Gandhi inilah para tahanan dipaksa untuk mengaku apa yang tidak dilakukannya. “Setelah itu, kami dibawa ke Penjara Gaperta,” ia cerita sambil mengernyitkan dahi sebagai tanda ia memutar ingatan ke masa lalu. Penjara Gaperta adalah tempat yang saat ini dikenal dengan Lapas Kelas I Tanjung Gusta, Medan Helvetia.

Penyiksaan kejam nan sadis itu ternyata terus berlanjut. Di Gaperta, kakinya diikat, lalu digantung dengan kepala ke bawah, lantas dihantam dengan sebuah balok. Dia sering menyebut balok itu dengan Bruti, semacam Bat (Alat Pemukul Bola) dalam Permainan Kasti. Hantaman Balok itu mematahkan tulang hidung dan tulang rusuknya. “Semua tulang ini sudah patah,” ujarnya sambil menunjukkan tulang hidungnya dan rusuknya yang patah. Menurutnya, setelah hantaman balok bertubi-tubi itu, dia tak sadarkan diri lagi dan tidak lagi merasakan apa pun.

Akhir tahun 1992 dia dibebaskan. Rambutnya panjang, mengenakan Levi’s dan Kameja Jeans. Untuk pertama kalinya, dia berjumpa dengan anak-anaknya di sebuah warung kopi pojokan kota di Aceh Utara. Selama 3 tahun dia merasakan berbagai penyiksaan dengan tuduhan yang tidak pernah terbukti. Berpindah kamp penyiksaan dari Rancông sampai ke rumah begal di Jalan Gandhi.

Terakhir, pada 7 Februari 2000 dia kembali ditangkap dalam sebuah insiden kontak senjata di pedalaman Pantonlabu, Aceh Utara. Dia dibawa kembali di bawa ke Rumah Tahanan “Unit C” di Desa Alue Bilie, Aceh Utara. Dia disiksa dengan menyedihkan, seluruh badannya terdapat bekas hantaman benda keras, punggung dan wajahnya dipenuhi luka sayatan benda tajam. Kedua tangannya diikat ke belakang, lehernya di jerat dengan kabel listrik yang di putar dengan kayu secara pelan-pelan.

Pagi itu, dia ditemukan di dekat rawa-rawa, depan sebuah masjid di pinggiran jalan raya. Kayu pengikat kabel masih melilit lehernya. Badannya kaku tak bernyawa. Untuk selamanya, dia pergi. Kisah ini telah mengubah jalan hidup anak-anaknya.

Haekal Afifa

Tulisan ini kupersembahkan untuk Ibuku; Wanita terkuat penuh cinta yang pernah ku kenal di semesta.

Hari ini, tepat 20 tahun silam kejadian itu sudah berlalu. Mungkin, cerita ini sedikit subjektif. Karena laki-laki itu adalah Ayahku. Al Fatihah.

Banda Aceh, 7/02/2000 – 7/02/2020

Editor: Khairil Miswar

Ilustrasi: tribunnewswiki.com

No comments:

Post a Comment