Sesajen Larungan - bagbudig

Breaking

Monday, December 27, 2021

Sesajen Larungan

Setelah komat-kamit, Marji pun melarung sesajen di sungai. Dengan wadah anyaman bambu, persembahan berupa daging ayam, telur, nasi ketan, serta buah kelapa dan pisang, akhirnya hanyut terbawa arus. Persembahan itu ia kirimkan untuk seketurunan gaibnya yang konon berwujud buaya, yang berpangkal dari leluhurnya, sebagaimana kepercayaannya, juga kepercayaan sebagian warga desa.

“Apa kau yakin akan melakukannya?” tanyaku kepada Sarman, perihal rencana kami, sambil memantau gerak-gerik Marji dari balik semak-semak, di seberang sungai.

Sarman sontak mendengkus sinis. “Apa yang perlu ditakutkan, Rasim? Tindakannya jelas-jelas bertentangan dengan agama. Takut, berarti sama dengan membenarkan kesesatannya.”

Aku pun kembali menimbang-nimbang keraguanku.

“Sudah. Jangan pikir lagi. Ayo cepat!” ajak Sarman, lantas berdiri dan beranjak pergi. 

Akhirnya, aku membuntutinya saja. Melangkah setengah berlari ke hilir sungai. Menuju ke sebuah belokan arus yang dangkal. Sebuah lokasi yang aman untuk memerangkap sesajen Marji. 

Entah apa alasan Sarman sampai berhasrat menghancurkan ritual Marji. Tetapi kuduga, selain karena keyakinan agamanya, juga karena ia memang membenci iparnya itu sekeluarga. Pasalnya, setelah kedua orang tuanya meninggal, ia tak juga mendapatkan bagian warisannya, sebab Marji dan Sima, kakaknya, telah bersekongkol untuk menguasai haknya. 

Mau tak mau, Sarman terpaksa mengalah atas keserakahan Marji dan Sima. Ia pun jadi tak ubahnya seorang buruh bagi mereka. Ia bahkan harus mengungsi dari rumah peninggalan orang tuanya, lantas tinggal di rumah kebun, untuk sekaligus menjaga tanaman jagung di tanah warisan, demi sebesar-besarnya keuntungan untuk kakaknya dan iparnya itu.

Tetapi aku tak mau mempersoalkan motif Sarman. Yang kutahu, rencana yang ia tawarkan kepadaku di masa libur kuliah ini, adalah sebuah pembangkangan yang menantang. Selain merasa terpanggil untuk melawan penyimpangan terhadap agama, aku juga ingin membuktikan kepadanya bahwa kesetiakawananku masih sama seperti semasa sekolah.

Hingga akhirnya, kami pun sampai di titik tujuan. Tak lama menunggu, sesajen pun datang. Kami lantas membawanya ke tepi sungai, lalu menempatkannya di bawah pepohonan bambu yang rimbun.

“Apa kita akan baik-baik saja setelah ini?” tanyaku, dengan keberanian yang kembali menciut kalau-kalau bala akan menimpa kami sesudah menyantap sesajen di tengah-tengah kami.

Sarman lantas tergelak, kemudian berucap enteng, “Menyantap makanan yang alami dan bergizi seperti ini, ya, tentu akan membuat kita baik-baik saja.”

“Apa kita tidak akan kena tulah?” tanyaku lagi. Masih waswas.

“Mana mungkin?” sergah Sarman, lalu menyantap buah pisang dengan buas, seolah memamerkan keberaniannya kepadaku. “Lihatlah, aku baik-baik saja.”

“Tetapi yang kudengar dari para tetua, kalau memakan sesajen begini, pasti ada akibat buruknya di kemudian hari. Kalaupun bukan kita yang menuainya, bisa jadi yang punya hajat,” tentangku lagi. “Apa kau tega kalau iparmu menuai akibat dari kelancangan kita?”

Sarman lantas berdecak malas. “Ah, aku tak peduli terhadapnya. Kalaupun ia menuai petaka, itu tidak masalah,” balasnya, dengan sikap cuek. “Ia tak ada bedanya dengan kakakku. Mereka sama-sama buruk hati. Bahkan kukira ia lebih bejat. Kau tahu, belakangan ini, ia sering bertengkar dengan kakakku setelah ia ketahuan berselingkuh dengan seorang janda di desa sebelah.”

Aku sontak terkejut atas informasi yang baru saja kuketahui itu. Aku tentu tak menduga bahwa tokoh adat seperti Marji tega menodai kesucian kampung.

Sarman kemudian mengaduh kesal. “Sudahlah. Kau ini mahasiswa. Kau seharusnya lebih paham soal agama, bahwa memakan sesajen yang bukan dari bahan sembelihan, boleh-boleh saja. Kita malah ikut berdosa kalau membiarkannya terbuang sia-sia, dan dosa itulah yang akan membuat kita kena tulah.”

Tak ingin membuatnya makin emosi dan merendahkan keyakinanku, aku pun turut bersantap, meski dengan nafsu makan yang rendah.

Kini, aku merasa malu pada Sarman yang tampak memiliki keteguhan terhadap hukum agama, meski ia hanya tamatan SMP. Sebaliknya, aku yang sebentar lagi akan menyandang gelar sarjana, malah mencla-mencle terkait penyimpangan agama.

Beberapa lama kemudian, kami pun menandaskan sesajen Marji, kecuali potongan daging ayam yang akhirnya menjadi santapan anjing milik Sarman. Sesaat berselang, kami lantas melangkah pulang dengan bahan perbincangan yang lain, seolah-olah kami memang tak perlu lagi merisaukan akibat dari tindakan kami.

Sampai akhirnya, keesokan harinya, saat masih pagi, warga pun geger. Pasalnya, Sima ditemukan meninggal di hilir sungai. 

Perlahan-lahan, sangkaan pun berembus, bahwa penunggu sungai telah murka, dan Sima menjadi korbannya.***

Ilustrasi: kumparan.com

No comments:

Post a Comment