Filsafat Terakhir: Tiga Kemungkinan - bagbudig

Breaking

Tuesday, January 5, 2021

Filsafat Terakhir: Tiga Kemungkinan

Oleh: Dr. Cipta Bakti Gama

Filsafat Terakhir? Bagi para peminat dan pecinta tradisi filsafat tenang saja. Miswari, penulis buku Filsafat Terakhir, tidak sedang mengakhiri tradisi berfilsafat. Sebaliknya, dari awal buku tersebut, Miswari menemani pembaca bertualang sebagai pembelajar filsafat, mengarungi berbagai tradisi filsafat dalam bentangan ruang dan waktu yang sangat luas namun padat. Hingga di akhir, dia menawarkan asas-asas tatanan masyarakat berlandaskan filsafat.

Lalu mengapa disebut Filsafat Terakhir? Saya melihat ada tiga hal.

Pertama, dalam konteks tradisi ilmu dan peradaban Islam filsafat telah mengarungi pahit manisnya pergulatan wacana, terutama dengan teologi dan tasawuf. Di satu sisi teologi Islam yang memiliki komitmen kuat pada narasi teks Alquran dan Hadits berkali-kali “menghajar” filsafat dengan menganggapnya sebagai tradisi dan ajaran sesat. Di sisi lain tasawuf yang melandaskan pengetahuannya pada pengalaman spiritual pun tak ketinggalan mendiskreditkan filsafat dengan menilainya sebagai ilmu yang tidak bisa mengantarkan manusia pada hakikat sejati.

Baca Juga: Filsafat Terakhir Untuk Semua

Dalam perjalanan berikutnya tampak bahwa filsafat pada akhirnya menemukan bentuk yang berharmoni dengan komitmen teologis dan pengalaman sufistik.

Kedua, banyak kalangan yang bergelut dengan filsafat, sebagai pecinta kebijaksanaan—sebagaimana makna dasar filsafat, dalam perjalanannya seperti malah “tersesat” dari jalan cinta dan kebijaksanaan itu sendiri.

Di era Yunani kuno Socrates, Plato, dan Aristoteles awalnya menawarkan kebijaksanaan rasional dalam menatap dan menata realitas. Masuk ke era Skolastik Eropa, kebijaksanaan ini dituntut tunduk pada agama; philosophia ancilla theologiae, filsafat mengabdi pada teologi.
Memasuki era Modern para filsuf mulai mempertanyakan asas-asas pengetahuan tentang apa yang selama ini disebut ajaran cinta pada kebijaksanaan.

Memasuki akhir abad kesembilan belas dan seterusnya mereka terus mempersoalkan hal-hal yang lebih mendasar, seperti kesadaran manusia sebagai subjek yang berfilsafat, bahasa yang menarasikan filsafat, konstruksi sosial dan relasi kuasa di balik subjek dan wacana filsafat, dan seterusnya yang bisa disebut dengan era Posmodernisme. Pada gilirannya tampak tak sedikit dari mereka yang menjadi ragu apakah memang filsafat itu masih mengenai cinta dan kebijaksanaan?

Dalam konteks ini Miswari tampak melihat bahwa pada akhirnya ada bentuk filsafat yang bisa menjadi model dan pijakan untuk terus bercumbu dengan cinta dan kebijaksanaan.

Ketiga, Miswari mungkin terinspirasi dengan istilah khātam dalam wacana keislaman. Kata khātam dalam bahasa Arab bisa berarti mata cincin yang dahulu biasa digunakan untuk stempel, bisa juga berarti penutup. Terkait makna pertama kata khātam juga bisa menjadi kiasan tentang sesuatu yang utama dan terbaik.

Nabi Muhammad saw adalah khātam Al-anbiyā’, yang umumnya diartikan sebagai puncak dan penutup para nabi. Seorang sufi besar, Ibn ‘Arabi, menyebut dirinya sebagai khātam Al-awliyā’, yang barangkali maknanya adalah puncak para wali.

Atas dasar itu, Filsafat Terakhir pun barangkali bisa dilihat sebagai puncak dan akhir kebimbangan filsuf dalam pergulatannya dengan teologi, tasawuf, modernisme, dan posmodernisme.

Jika benar demikian, Filsafat Terakhir tampaknya sangat menggiurkan. Tentu, untuk mengetahui lebih jauh seperti apa Filsafat Terakhir yang menggiurkan itu Anda perlu mengikuti narasi Miswari dengan membaca buku tersebut.

*Pengajar filsafat di STFI Sadra Jakarta.

No comments:

Post a Comment