Di RK - bagbudig

Breaking

Wednesday, November 18, 2020

Di RK

Rumoh Kupi, disingkat RK, merupakan salah satu warung kopi di Kota Langsa, Aceh. Lokasinya tepat di seputaran jalan protokol, sehingga mudah ditemukan.

Bangunannya terdiri dari dua pintu ruko dan tidak ada yang terlihat istimewa dari warung kopi ini. Interiornya tampak sama dengan warung kopi pada umumnya.

Tetapi, entah mengapa, di warung ini minum kopi sambil diskusi menjadi lebih menarik. Di tempat itu, selalu saja muncul ide, topik, gagasan dan isu menantang yang muncul.

Di RK, saya sering minum kopi bersama Miswari. Kami memilih meja kopi yang terletak paling belakang. Sambil bergurau, saya katakan kepada Miswari, kalau kita tidak minum kopi di sana, meja itu tidak ada yang berani menempati.

[Lazada Program] Buku Sastra Roman Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat – Mark Manson
Rp. 75.000,-

Beberapa teman juga pernah ikut bergabung, salah satunya Wildan. Wildan salah satu pengajar di IAIN Langsa. Dia juga agamawan. Oleh masyarakat Langsa pada umumnya, dia disapa Teungku Wildan. Saya kadang-kadang ikut menyapa dengan panggilan serupa, “begini Teungku…” ketika hendak memulai satu percakapan. Walau suasana egaliter lebih sering muncul di meja kopi RK itu, tanpa menyapa Wildan sebagai “Teungku” pun tidak mengapa.

Sekali waktu, di hari Jumat, kami duduk bertiga dan berdiskusi alot sekali. Wildan saat itu, memakai peci dan baju koko. Sepertinya, hari itu dia akan membaca khutbah di masjid. Tetapi, aroma kopi membuat diskusi berjalan dengan kencang, lontaran pendapat tidak berhenti-henti, terjadi silang pendapat di antara kami bertiga. Sampai saya tersadar kalau Wildan sudah memakai pakaian resmi keagamaan, lalu saya mengatakan, “sepertinya diskusi sudah bisa kita akhiri, jangan sampai Teungku Wildan terlambat ke masjid.”

Warung kopi memang sering membuat kita lupa akan waktu. Di tempat itu, waktu berjalan dengan cepat, dua sampai tiga jam tidak terasa. Lalu, apa yang dibicarakan? Tidak ada satu orang pun yang tahu, walau setiap kesepatakan untuk minum kopi selalu diawali dengan niat hendak membahas persoalan tertentu, “ayo ngopi, sepertinya kita harus membicarakan rencana penulisan ini.” Atau yang lebih tegas, “di mana? Saya tunggu di warung kopi, persoalan semakin genting!” Atau, “Situasi makin gawat, Pak. Sepertinya harus ke RK.”

Memang, persoalan apa yang genting? Memang, situasi apa yang darurat? Sehingga harus dibahas di warung kopi. Jawabannya, tidak ada. Memang tidak ada sama sekali. Ucapan-ucapan itu hanyalah kalimat pembuka dari segala kegilaan dan awal mula dari membicarakan hal-hal yang absurd, dan hanya laki-laki yang memahami dengan baik apa yang dibicarakan di warung kopi selama berjam-jam itu.

Hal-hal yang dibicarakan sering tidak berhubungan dengan kehidupannya yang riil, melainkan tentang mengubah dunia: Apa yang akan terjadi di Amerika dan dunia setelah Pilpres dimenangkan oleh Biden, siapa yang akan memenangkan pertandingan kalau Tyson dan Holyfield kembali berjumpa di atas ring, mengapa virus korona itu ada tetapi tidak seperti yang dibincangkan, apakah Sukarno mengetahui Gerakan 30 September, mengapa terjadi Revolusi Sosial di Aceh, sejauh apa ancaman Artificial Intelegent terhadap agama, apakah teori sosial di Eropa dapat meneropong fenemona sosial di Bireuen dan sederetan pembicaraan lainnya yang sama sekali tidak berhubungan dengan kehidupan riil.

Namun, setelah meninggalkan warung kopi, kehidupan nyata telah menunggu yang mau tidak mau harus diselesaikan: pekerjaan yang menumpuk, notifikasi tagihan, dapur yang tidak boleh kosong dan rentetan serupa lainnya. Tetapi jangan khawatir, sebab keesokan harinya, selalu ada warung kopi yang menyediakan ruang simulacra, sekadar menepi dari kehidupan nyata yang penat.

Ilustrasi: The Lion Raw

No comments:

Post a Comment