Buku Tasawuf Terakhir Selesai Dibedah - bagbudig

Breaking

Sunday, November 15, 2020

Buku Tasawuf Terakhir Selesai Dibedah

Karya terbaru Miswari yang bertajuk ‘Tasawuf Terakhir‘ telah selesai dibedah pada Selasa (3/11) melalui Zoom Webinar, aplikasi Zoom Meeting yang kian populer di tengah pandemi Covid-19.

Acara bedah buku yang digelar bakda Magrib itu menghadirkan dua narasumber, yaitu Muhammad Nur Jabir, Direktur Rumi Institute dan Kamaruzzaman Bustamam Ahmad, akademisi UIN Ar-Raniry.

Acara tersebut berlangsung selama hampir tiga jam dengan jumlah partisipan sekitar 65 orang. Para partisipan yang memesan buku selama acara berlangsung diberikan potongan harga khusus dan penulis menghadiahkan buku kepada pemberi pertanyaan atau komentar terbaik yang dinilai oleh moderator.

Dalam penyampaiannya sebagai penulis, Miswari mengatakan bahwa ‘Tasawuf Terakhir’ berangkat dari keresahan sebagian pihak yang memperlakukan agama secara dangkal. Mereka menjadikan agama sebatas simbol-simbol untuk membungkus nafsu dan kepentingannya. Akibat ulah mereka, agama menjadi kehilangan substansinya. Agama menjadi sebatas alasan untuk menegakkan identitas dan membangun ekslusivisme.

[Lazada Program] Trump seni Kesepakatan Donald J.Trump Buku Novel
Rp. 171.500

Menurut penulis, selama ini agama hanya difokuskan pada aspek fikih dan aspek teologi. Hasilnya adalah pembentukan sikap keberagamaan yang reaksioner. Agama sarat seremoni dan miskin penghayatan.

Melalui buku ini, penulis menawarkan tasawuf falsafi sebagai solusi agar agama menjadi bermakna. Tasawuf falsafi menunjukkan cara beragama yang sejuk, toleran, dan penuh cinta kasih.

Pada acara tersebut, Muhammad Nur Jabir tampak fokus pada pembahasan tentang cinta. Menurut Direktur Rumi Institute tersebut, benang merah dari setiap tokoh yang dibahas dalam ‘Tasawuf Terakhir’ adalah tentang cinta. Cita memang merupakan prasyarat bagi mukasyafah. Pada diri setiap insan, cinta merupakan sesuatu yang berharga. Jatuh cinta kepada lawan jenis dalam aliran tarekat yang berorientasi ‘irfan adalah prasyarat untuk mengenal cinta yang sesungguhnya.

Dalam tarekat Akbariyah yang diikuti Ibn ‘Arabi misalnya, kata Nur Jabir, setiap pesuluk diharuskan untuk jatuh cinta kepada lawan jenis. Cintanya itu diperintahkan untuk dipendam dalam hati. Tidak boleh diungkapkan. Karena secara perlahan cinta itu akan meninggalkan fakultas indrawi menuju kemurniannya sebagai cinta Ilahi.

Mengenai tasawuf falsafi atau ‘irfan sebagai tasawuf terakhir, hal itu masih berada dalam wilayah perdebatan, tambah Nur Jabir. Namun Ibn ‘Arabi sebagai imam besar tasawuf falsafi mengklaim dirinya adalah wali terakhir. Karena faktanya memang dialah yang telah berhasil menyempurnakan tasawuf falsafi dalam penjelasan yang sempurna.

Nur Jabir menjelaskan bahwa sebelumnya, tasawuf falsafi hanya fokus pada eksplorasi makna batin ayat dan hadis serta syatahat-syatahat dan ungkapan-ungkapan sufistik yang sulit dipahami. Di tangan Ibn ‘Arabi, tasawuf falsafi dijelaskan sempurna dengan melibatkan berbagai prespektif keilmuan. Belum ada karya tasawuf falsafi yang mampu menandingi Ibn ‘Arabi hingga hari ini. Ibn ‘Arabi dapat dikatakan sebagai sufi falsafi terakhir.

Sufi generasi pertama hanya dikenal dengan kezuhudan tingkat tinggi. Mereka memaknai ayat secara esoterik. Selanjutnya muncul kelompok sufi yang fokus pada tarekat. Lalu Al-Ghazali memperkenalkan tasawuf yang mengedepankan amal. Dilanjutkan oleh Ibn Qayyim. Terakhir Ibn ‘Arabi hadir dengan tasawuf teoritis atau tasawuf falsafi. Selanjutnya tasawuf falsafi diajarkan dengan fokus pada berbagai perspektif. Misalnya Abdul Karim Al-Jili fokus pada Insan Kamil. Fadhullah Burhanpuri fokus pada martabat Tujuh. Hamzah Fansuri fokus pada dimensi analogi. Sehingga dapat dikatakan tasawuf falsafi sebagai tasawuf terakhir, tutup Nur Jabir.

Sementara pembedah lainnya, Kamaruzzaman Bustamam-Ahmad (KBA) dalam karya tersebut lebih berfokus pada cara Miswari menulis. Menurut Antropolog muda ini, Tasawuf Terakhir mendayagunakan referensi yang kaya, perenungan filosofis, dan penyampaian yang renyah.

Akademisi yang akrab disapa KBA tersebut juga mengajak untuk mengamati orang-orang yang telah mendapatkan penyingkapan spiritual dalam masyarakat.

Sebagai seorang antropolog, KBA mengatakan bahwa pengalaman spiritual dialami banyak orang tanpa mempelajari konsep-konsep dan teori tasawuf falsafi. Hal ini memang tidak dapat dibantah. Namun penguasaan konsep keilmuan filsafat dan tasawuf teoretis sangat penting supaya siapa yang telah mencapai kasyaf dapat menyampaikan pengalamannya dengan baik. Bila tidak, mereka hanya memunculkan kebingungan dan kecurigaan.

Dalam sesi kedua acara bedah buku Tasawuf Terakhir’ dibuka kesempatan kepada para partisipan untuk bertanya atau berkomentar. Di antara para penanya dan komentator adalah Oling, Hendra, dan Arizul.

Oling berkomentar tentang teori tasasuf falsasi. Hendra berkomentar tentang perdebatan Hamzah Fansuri dan Nuruddin Ar-Raniri, sementara Arizul menyampaikan pandangannya tentang posibilitas kasyaf tanpa studi teori tasawuf.

Dalam hal ini, moderator memutuskan komentar terbaik berasal dari Hendra di Tangerang. Adapun hadiah buku Tasawuf Terakhir telah diterima Hendra.

*Bagi yang ingin memesan buku Tasawuf Terakhir klik Di Sini

No comments:

Post a Comment