Berhala Terakhir - bagbudig

Breaking

Wednesday, November 25, 2020

Berhala Terakhir

Kepergian Maradona merupakan titik awal paradigma baru sepakbola. Pertama-tama ketika dunia mengenal sepakbola, olahraga yang membingungkan itu hanya dilihat sebagai sebuah kompetisi acak dari dua kesebelasan yang entah melakukan apa di atas lapangan. Seiring perjalanannya, sepak bola semakin diperbaiki peraturan pertandingannya. Selanjutnya berbagai pemain ikonik muncul. Dikenallah nama-nama seperti Bobby Charlton, Lev Yatsin, Luis Suarez, Pele, dan Eusebio.

Ikon-ikon muncul sebagai sesuatu yang keluar (baca: menonjol) dari sebuah tim kesebelasan. Selanjutnya muncul berbagai ikon dalam timnya seperti Paolo Rossi, Dino Zoff, Mario Kempes, Johan Cruyff dan lainnya. Pada priode ini ikon-ikon itu berhasil menarik minat banyak orang untuk mengenal dan menyukai tim yang dibela sang ikon. Sang ikon melampaui tim kesebelasannya. Sang ikon menjadi berhala bagi tim kesebelasannya.

Selanjutnya muncul seorang manusia bernama Diego. Popularitasnya tidak hanya melampaui tim yang dibela, melainkan olah ragasepak bola itu sendiri. Banyak orang di seluruh penjuru dunia lebih mengenal Diego Maradona daripada sepakbola. Ketika mendengan kata ‘Maradona’ yang muncul dalam imajinasinya adalah kulit bundar bewarna hitam putih. Bola sepak.

Soal trophy Piala Dunia, Pele memang punya lebih banyak. Banyak pengamat mengatakan Pele menonjol di masanya karena kualitas permainan sepakbola waktu itu masih rendah. Tetapi Maradona tidak hanya menyandang trophy Piala Dunia sebagai indikator seorang pemain sempurna. Dia mengungguli para pesepak bola zaman modern yang telah banyak tunbuh. Maradona adalah semangat sepak bola modern.

Kepemimpinan Maradona dalam sebuah tim mampu membangkitkan semangat kesebelasannya untuk bangkit dalam setiap situasi. Soal menginspirasi tim, Maradona punya lebih dari itu. Dia mampu menginspirasi sepakbola itu sendiri.

Makanya aneh kalau ada orang yang mencoba membanding-bandingkan Maradona dengan Messi. Nama tersebut terakhir itu bahkan tidak mampu bermain sebagai sebuah tim. Dia hanya mampu mengandalkan skil individu. Sementara sepakbola adalah permainan sebuah tim.

Maradona sendiri meskipun punya skil tingkat dewa, namun mampu bermain dalam kesatuan sebuah tim. Dia mampu menginspirasi rekan-rekannya. Maradona sempurna sebagai individu dan bagian dari tim kesebelasan.

Setelah Maradona pensiun, orang-orang mencoba menemukan penggantinya. Itu ada. Yang menggantikan nomor punggung 10 banyak. Orgeta, Ronaldinho, Riquelme, Messi, dan lainnya. Maradona belum tergantikan. Dan itu semakin sulit dan nyaris mustahil di masa depan.

Mulai hari ini dan besok, sepakbola tidak lagi dilihat sebagai ajang pamer skill individu dan pembangunan ikon pemain. Mulai hari ini dan besok, sepakbola hanya akan dapat dinikmati dengan mengganti sudut pandang atas sepak bola yakni ajang adu taktik.

Tidak ada individu pemain yang akan menonjol. Semua akan larut dalam satu kesatuan tim yang tunduk pada taktik yang ditentukan. Pencetak gol tidak hanya oleh striker tetapi bergulir dari seluruh posisi.

Maka hampir dapat dipastikan, Maradona adalah satu-satunya ikon sepak bola. Untuk olahraga yang telah menjadi kegemaran utama umat manusia itu, Maradona adalah berhala terakhir.

Ilustrasi: Radio Uchile

No comments:

Post a Comment