MPTT "Lawan" Hegemoni Mainstream? - bagbudig

Breaking

Thursday, October 22, 2020

MPTT "Lawan" Hegemoni Mainstream?

Jujur, saya tidak banyak tahu tentang Majelis Pengkajian Tauhid Tasawuf (MPTT) yang kononnya dipimpin oleh Abuya Syech Amran Waly Al-Khalidy.

Ada dua hal yang menyebabkan minimnya pengetahuan saya tentang MPTT.

Pertama, sejauh ini saya belum melakukan riset terhadap ajaran yang dikembangkan MPTT dan bahkan belum pernah berinteraksi serius dengan para pengikut kelompok ini.

Kedua, bacaan atawa literature tentang ajaran MPTT juga tidak pernah saya baca, apalagi tekuni, sebab selain tidak dijual bebas di kedai-kedai buku, juga sulit diakses melalui internet; atau mungkin ada, tapi saya alpa, sebab saya memang kurang fokus dengan kajian sufisme.

Alhasil, pengetahuan saya tentang MPTT sangat-sangat minimalis dan sekilas pintas saja dengan mengacu pada catatan-catatan ringan di medsos dan juga penggalan-penggalan video yang terkadang membingungkan.

Anggap saja beberapa bait coretan di atas sebagai pleidoi saya terhadap tuduhan dan tudingan yang mungkin datang kemudian, bahwa saya telah menulis sesuatu yang tidak saya pahami.

Namun begitu, secara pasif, saya pernah mengikuti “debat” tak formal beberapa netizen di medsos terkait MPTT. Sebagai sebuah kajian pemikiran tentu saja isu ini dengan mudah menimbulkan kontroversi antarpara pihak, yang mendukung dan menolak.

Dengan segudang argumen khas netizen yang terkadang destruktif, absurd dan konyol, perdebatan itu terus bergulir dan mengalir, cukup deras.

Tidak sebatas di medsos, media tercanggih abad ini, perdebatan itu terkadang juga meledak meletup di kedai-kedai kopi, pusat berkumpulnya para “pemikir” lintas profesi. Dan bahkan, menurut riwayat yang berkembang dan video yang beredar, perdebatan yang lebih luas telah pula muncul di beberapa daerah melalui “gerakan massa” yang secara faktual lebih “liar” dan sulit dikendalikan.

Seperti disebut Hardiman dalam bukunya Memahami Negativitas, massa adalah orang-orang yang membiarkan dirinya dipakai sebagai elemen kekuatan kelompok tertentu. Lebih jauh dia juga menggarisbawahi bahwa kekerasan massa adalah alarm dari peradaban yang membusuk.

Terlepas bagaimana proses terbentuknya massa itu, namun yang jelas, keterlibatan massa dalam hal-hal yang seharusnya bisa diselesaikan dengan dialektika adalah konyol, sebab konflik pemikiran itu akan segera bergeser pada adu fisik yang tidak perlu.

Baru-baru ini, Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh kononnya telah mengeluarkan taushiyah yang melarang pengajian MPTT di Aceh. Namun sayangnya tidak ada penjelasan detail, atau minimal alasan-alasan logis kenapa pelarangan itu muncul.

Mungkin MPU Aceh punya alasan tersendiri untuk “merahasiakan” alasan-alasan itu.

Konon, merespons taushiyah itu, melalui sebuah “selebaran” yang beredar luas di medsos, pihak MPTT meminta penguasa di Aceh, dalam hal ini gubernur, untuk menegur ketua dan anggota MPU yang dianggap telah berpaya menghilangkan ajaran kesufian di Aceh.

Jika surat yang beredar itu asli dan benar, maka secara tegas dapat kita dimpulkan bahwa MPTT menolak pelarangan itu. Dengan kata lain, MPTT mencoba melawan MPU, sebagai sebuah organisasi yang dianggap paling otoritatif dalam soal keagamaan di Aceh.

Merujuk pada beberapa sumber lain, yang sebagiannya sulit diverifikasi, tampaknya MPTT telah melakukan “perlawanan sejak awal terhadap “hegemoni mainstream.”

Terlepas dari klaim sebagian kalangan bahwa ajaran MPTT menyimpang atau serendah-rendahnya dianggap tak layak diajarkan kepada masyarakat umum, namun “perlawanan” yang dilakukan MPTT tetap saja harus dihargai, di mana “perlawanan” semacam ini terbilang cukup langka di Aceh.

Mungkin ada beberapa alasan yang membuat MPTT berani melakukan “perlawanan.”

Asumsi pertama, kebesaran nama Abuya Syech Mudawali Al-Khalidy yang melekat pada nama Abu Amran Waly adalah “modal” besar yang bisa saja menjadi dasar untuk mempertahankan MPTT. Bisa jadi hal ini akan menjadi semacam seumalo bagi ulama-ulama Aceh lainnya ~ yang secara faktual berada dalam kondisi dilematis, sebab sebagian besar ulama Aceh saat ini memiliki pertalian sanad keilmuan kepada Abuya Syech Mudawali Al-Khalidy.

Kedua, faktor pengikut. Menurut pengamatan sekilas, kita bisa melihat bahwa perkembangan ajaran MPTT dalam beberapa tahun terakhir, khususnya pasca meninggalnya Abuya Muhibuddin Waly dan Abuya Jamaluddin Waly, begitu pesat di berbagai daerah.

Dengan jumlah pengikut yang lumayan ramai, baik di Aceh maupun di luar Aceh, MPTT tentunya memiliki alasan yang cukup kuat untuk tetap bertahan di tengah “tekanan” pemikiran arus utama yang juga cukup menghegemonik di Aceh.

Adapun terkait kenapa sebagian ulama Aceh menolak MPTT, bisa jadi disebabkan oleh beberapa faktor, baik secara teologis, sosiologis, atau mungkin politik. Secara detail, biarkan saja ia menjadi misteri, atau akan kita ulas nanti, ketika data-data tercukupi.

Terakhir, tulisan ini bukan untuk membela siapa pun, apalagi menyalahkan, tapi sekadar reveiw tentang fenomena yang muncul akhir-akhir ini, di mana sepanjang sejarahnya Aceh selalu terjebak dalam isu-isu sektarian yang tak berkesudahan.

Ilustrasi: Tauhid Tasawuf

No comments:

Post a Comment