Masalah Timur Tengah Meluas ke Balkan - bagbudig

Breaking

Saturday, September 26, 2020

Masalah Timur Tengah Meluas ke Balkan

Oleh: Sinem Cengiz

Kawasan Balkan telah menjadi kawasan yang diminati oleh banyak pemain asing, mulai dari China hingga AS dan dari Eropa hingga Rusia. Sejak terjadi disintegrasi di bekas Yugoslavia, wilayah itu juga menjadi wilayah prioritas bagi Turki, yang telah muncul sebagai pemain penting dalam dua dekade terakhir dengan pengaruh ekonomi dan politiknya yang terus meningkat.

Dari sudut pandang Ankara, negara-negara Balkan tidak hanya penting karena aspek politik, ekonomi dan geografis, tetapi juga karena ikatan sejarah, budaya dan kemanusiaan. Tapi, meski dianggap penting, namun perkembangan politik di Semenanjung Balkan hampir tidak pernah mengisi halaman pertama surat kabar Turki, yang selalu saja didominasi oleh isu-isu terkait Uni Eropa, Timur Tengah, dan AS. Namun, perkembangan terakhir membuktikan bahwa kawasan Balkan ternyata tidak kebal dari pengaruh konflik Timur Tengah.

Presiden Amerika Donald Trump bulan ini mengumumkan bahwa Serbia dan Kosovo telah setuju untuk menormalisasi hubungan ekonomi dengan Israel sebagai bagian dari pembicaraan yang ditengahi AS.

Setelah dua hari pertemuan dengan pejabat administrasi Trump, Presiden Serbia Aleksandar Vucic dan Perdana Menteri Kosovar Avdullah Hoti menandatangani perjanjian terpisah dengan AS, di mana Serbia setuju untuk memindahkan kedutaannya di Israel ke Yerusalem dan Kosovo setuju untuk menormalisasi hubungan dan menjalin hubungan diplomatik dengan Israel.

Menyambut langkah tersebut dan mengharapkan gerakan lebih lanjut dari Pristina, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menulis di Twitter: “Saya menyambut baik kesepakatan dengan Kosovo untuk menjadi negara Muslim pertama yang membuka kedutaan besar di Yerusalem. Serbia akan menjadi negara pertama yang membuka kedutaan besar di Yerusalem – menyusul terobosan bersejarah dengan Uni Emirat Arab.”

Menyikapi pengumuman tersebut, Ankara langsung bereaksi. Kementerian Luar Negeri Turki mengeluarkan pernyataan tertulis yang mengungkapkan keprihatinan yang mendalam atas keputusan Serbia dan Kosovo. Ankara meminta Kosovo untuk menghormati hukum dan menghindari langkah-langkah yang dapat mencegahnya diakui oleh negara lain di masa depan.

Kementerian juga menunjukkan bahwa Turki adalah salah satu negara pertama yang mengakui Kosovo, yang mendeklarasikan kemerdekaannya dari Serbia pada 2008, dan telah mendukung negara tersebut dalam upayanya untuk diakui oleh komunitas internasional.

Presiden Kosovar Hashim Thaci pada hari Minggu melakukan kunjungan ke Istanbul, di mana dia bertemu dengan mitranya dari Turki Recep Tayyip Erdogan. Sejauh ini tidak ada rincian dari pertemuan tersebut. Thaci memposting di Twitter: “Terima kasih kepada Presiden (Erdogan) atas keramahan yang hangat dan percakapan yang produktif tentang semua masalah yang menjadi kepentingan bersama, termasuk kerjasama bilateral, masalah regional dan global. Kedua negara kita menikmati hubungan persahabatan dan selanjutnya akan memperkuat kemitraan strategis.”

Uni Eropa berbagi keprihatinan yang sama dengan Turki dan tidak senang dengan pembicaraan yang dimediasi AS antara Serbia dan Kosovo. Negosiasi yang difasilitasi Uni Eropa antara kedua negara dimulai pada 2011 tetapi terhenti pada November 2018 dan baru dilanjutkan musim panas ini setelah upaya negosiasi paralel AS dimulai. Juru bicara Komisi Eropa Peter Stano mengatakan: “Tidak ada negara anggota Uni Eropa yang memiliki kedutaan di Yerusalem,” menambahkan bahwa keputusan Serbia dan Kosovo untuk membuka kedutaan besar di Yerusalem merupakan “masalah yang sangat mengkhawatirkan dan disesalkan.”

Brussels mendesak kedua negara untuk menyelaraskan sikap kebijakan luar negeri mereka dengan posisi bersama Uni Eropa terkait masalah Israel-Palestina. Sementara itu, menurut laporan media, Serbia tidak akan memindahkan kedutaannya ke Yerusalem jika Israel mengakui Kosovo.

Hubungan Turki dengan Serbia mengalami pasang surut selama bertahun-tahun, termasuk pada 2013, ketika Erdogan mengatakan dalam pidatonya: “Jangan lupa bahwa Kosovo adalah Turki dan Turki adalah Kosovo.” Namun, dalam beberapa tahun terakhir, Turki dan Serbia telah menikmati hubungan diplomatik penuh, karena Serbia menganggap Turki yang stabil sangat penting untuk kawasan Balkan. Demikian juga, Erdogan, yang mengunjungi Beograd pada Oktober tahun lalu, menggambarkan Serbia sebagai “negara kunci untuk perdamaian dan stabilitas di Balkan,” dan menyebut bahwa kerja sama dengan Serbia telah mencapai tingkat “ideal”.

Pada bulan Februari, Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu mengunjungi Montenegro sebagai bagian dari upaya untuk meningkatkan keterlibatan Turki di Balkan. Selama kunjungannya, Ankara dan Podgorica mengumumkan rencana untuk meningkatkan hubungan diplomatik, pertahanan, dan ekonomi.

Sementara itu, parlemen Albania pada Juli mengesahkan kesepakatan yang ditandatangani dengan Ankara untuk meningkatkan kerja sama pertahanan dan ekonomi. Faktanya, sebagian besar negara Balkan tampaknya bertekad untuk memperdalam hubungan pertahanan mereka dengan Turki dalam beberapa tahun terakhir.

Turki juga memainkan peran penting dalam mempromosikan keterlibatan negara-negara Balkan di NATO, termasuk mendukung upaya Makedonia yang sukses untuk menjadi anggota aliansi. Sejak 1995, Ankara telah mengambil bagian dalam semua operasi NATO di Balkan dan telah mengirim prajuritnya untuk bertugas bersama pasukan keamanan internasional di Kosovo, Bosnia dan Herzegovina.

Selain dimensi bilateral, aspek internasional juga perlu ditambahkan. Rusia sangat menaruh minat yang kuat dan aktif di kawasan ini. Meskipun kerja sama Turki meningkat dengan Moskow di Timur Tengah, namun belum ada koordinasi antara keduanya di Balkan.

Namun, mengingat gesekan dalam hubungan Turki-AS dan niat Washington untuk meningkatkan kehadiran militernya di Balkan, khususnya di Yunani, Rusia mungkin akan menjadi aktor yang mungkin ingin diajak kerja sama oleh Ankara. AS sudah memiliki empat pangkalan militer di Bulgaria dan elemen perisai pertahanan rudal AS dikerahkan di Rumania. Tidak seperti Washington, Rusia belum mengerahkan pasukan ke wilayah tersebut.

Meskipun konflik di Timur Tengah meluas ke perbatasannya, kawasan Balkan sejauh ini tampaknya tetap berada di luar cakupan mengingat keterlibatan Rusia dan Amerika di kawasan tersebut.

Sinem Cengiz

*Sinem Cengiz adalah seorang analis politik Turki yang memfokuskan diri dalam hubungan Turki dengan Timur Tengah. Twitter: @SinemCngz
 
Sumber: Arab News

Terjemahan bebas Bagbudig.com

No comments:

Post a Comment