Chairil Anwar, Penyair Legendaris - bagbudig

Breaking

Friday, September 4, 2020

Chairil Anwar, Penyair Legendaris

Chairil Anwar lahir di Medan pada 26 Juli 1922 dan meninggal pada 28 April 1949 dalam usia 27 tahun. Dia menjalani pendidikan di HIS dan MULO namun tidak tamat.

Bersama Asrul Sani, Rivai Apin dan sastrawan lainnya dia mendirikan Gelanggang Seniman Merdeka pada 1946. Pada 1948-1949 dia menjadi redaktur Gelanggang (ruang budaya Siasat) dan Gema Suasana pada 1949.

Kumpulan sajaknya di antaranya: Kerikil Tajam dan Yang Terhempas dan Yang Putus (1949), Deru Campur Debu (1949), Tiga Menguak Takdir (bersama Asrul Sani dan Rivai Apin, 1950), Aku Ini Binatang Jalang (1986) dan Derai-Derai Cemara (1999).

Selain menulis sajak, Chairil Anwar juga menerjemahkan beberapa karya asing, di antaranya: Pulanglah Dia si Anak Hilang (Andre Gide, 1948) dan Kena Gempur (novel Kohn Steinbeck, 1951).

Baca Juga: Chairil Anwar Terjebak Plagiat

Karya Chairil Anwar diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Burton Raffel dengan judul Chairil Anwar Selected Poems (New York, 1963) dan The Complete Poetry and Prose of Chairil Anwar (New York, 1970). Karya Chairil Anwar juga diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman oleh Walter Karwath dengan judul Feuer and Asche (Wina, 1978).

Chairil Anwar menjadi terkenal karena dua hal. Pertama, ia menulis sajak-sajak bermutu tinggi dengan jenis sastra yang berlatar ideologi atau pemikiran besar seperti perang dan revolusi yang dikenal dengan sastra mimbar karena memiliki kaitan dengan suasana zaman tertentu. Di antara karya Chairil yang termasuk dalam sastra mimbar adalah “Aku,” “Catetan Tahun 1946,” “Perjanjian dengan Bung Karno” dan “Kerawang Bekasi.”

Selain itu, Chairil juga muncul dalam situasi peralihan yang penuh gejolak, yaitu masa transisi dari situasi terjajah menuju kemerdekaan.

Dalam karya-karyanya, Chairil membawa suasana, gaya, ritme, tempo, napas, kepekatan, dan juga kelincahan yang mengagumkan dalam sastra Indonesia. Chairil juga telah mampu membebaskan bahasa dari kungkungan kaidah bahasa yang baku, yang secara kebahasaan menyalahi aturan, namun sebagai sarana ekspresi ia sangat indah dan fungsional.

Sebagai seorang sastrawan ternama, Chairil juga menguasi bahasa asing seperti bahasa Belanda, Inggris dan Jerman sehingga dengan mudah ia dapat membaca dan memahami karya sastrawan luar negeri.

Baca Juga: Angkatan 45

Selama hidupnya ada yang mengira bahwa Chairil adalah seorang petualang yang kumuh. Namun hal itu dibantah oleh Asrul Sani yang merupakan sahabatnya. Menurut Asrul Sani, Chairil selalu berpakaian rapi meskipun ia seorang bohemian. Kerah kemejanya selalu kaku karena dikanji dan bajunya juga selalu disetrika licin. Bahkan menurut Asrul Sani, Chairil bisa dikatakan dandy.

Di Indonesia, Chairil dianggap sebagai penyair pendobrak zaman dan pelopor Angkatan 45 dalam kesusasteraan Indonesia. Untuk mengenang sosok Chairil, Dewan Kesenian Jakarta memberikan anugera sastra kepada para sastrawan dan penyair dengan nama Anugerah Sastra Chairil Anwar.

Sumber: Ensiklopedi Sastra Indonesia (Penerbit Titian Ilmu Bandung, 2007), hal. 161-162.

Diedit dan disesuaikan oleh Bagbudig.com

Ilustrasi: wikiquote

No comments:

Post a Comment