Asam Sunti & Covid-19 - bagbudig

Breaking

Monday, May 25, 2020

Asam Sunti & Covid-19

Oleh: Fazel J. Haitamy

Data sementara menunjukkan penyebaran Covid-19 sampai hari ini seluruh kasus positif di Aceh berasal dari kasus impor. Bukan orang asli Aceh namun dari luar Aceh, dan jika pun dia orang Aceh yang positif maka ia tertular di luar Aceh bukan tertular di Aceh.

Fakta selanjutnya menunjukkan belum adanya kasus positif dari transmisi lokal (penularan dari warga lokal yang positif ke warga lokal lainnya). Bahkan hari ini Aceh Utara telah memberikan rilis nol PDP dan ODP.

Jika melihat interaksi masyarakat Aceh selama ini, nyaris sangat longgar dan tanpa physical distancing. Masjid penuh, pasar penuh, mall dan pusat perbelanjaan membeludak, apalagi warung kopi jangan tanya ramainya.

Menjelang Ramadhan dan Idul Fitri berbondong-bondong arus manusia masuk ke Aceh baik jalur udara (dari Jakarta) dan jalur darat (dari Medan). Dan juga para TKI asal Aceh yang pulang dari Malaysia pada Februari dan Maret lalu diyakini cukup banyak jumlahnya.

Sehingga tidak relevan jika dikatakan physical distancing yang menjadi penyebab tidak adanya transmisi lokal di Aceh. Sebagaimana pernyataan juru bicara Pemerintah untuk Covid-19 ketika mengomentari fenomena di Aceh.

Jadi Apa Gerangan Penyebabnya?

Beberapa teori bermunculan ke permukaan mengapa tidak ada transmisi lokal Covid-19 di Aceh? Salah satu hipotesa menarik yang saya dapatkan adalah karena sistem imun tubuh masyarakat Aceh yang baik sehingga Corona tidak berkembang. Sistem imun ini terbentuk karena makanan khas yang dikonsumsi oleh masyarakat Aceh secara turun temurun. Bumbu tersebut adalah Asam Sunti (belimbing wuluh yang telah dikeringkan).

Hampir sebagian besar masakan Aceh menggunakan asam sunti dalam dalam pengolahannya. Sejauh ini, hanya bahan makanan ini yang membedakan komposisi bumbu masakan Aceh dengan daerah atau negara lain. Sedangkan rempah, banyak suku dan bangsa lain di dunia juga mengonsumsi rempah, namun penyebaran Covid-19 tetap tinggi di sana. Sebut saja India atau negara-negara Timur Tengah.

Yang membedakan makanan Aceh hanya asam sunti, hingga besar kemungkinannya “produk Allah” inilah yang menjadi faktor pemberi kekebalan tubuh alami sehingga menekan penyebaran Covid-19 di tengah masyarakat Aceh. Tentu ini hanya hipotesa sementara. Bisa saja benar dan bisa juga salah. Kabar terakhir saya dapatkan, ada beberapa profesor dari berbagai disiplin ilmu sedang meneliti lebih jauh kandungan asam sunti Aceh.

Tetap saja, asam sunti hanyalah makanan yang “mungkin” bisa membentuk imun tubuh untuk melawan virus atau bakteri. Dan bukan obat, sehingga tidak disarankan bagi penderita yang sudah positif Covid-19 untuk berobat dengan mengonsumsi asam sunti berlebihan. Wallahu a’lam.

Nanggroe Aceh 3 Syawal 1441 H.

*Fazel J. Haitamy adalah Founder Al-Arabiyah Boarding School, Banda Aceh.

No comments:

Post a Comment