Kuliah di Kelantan: Ruang Ritual, Khotbah dan Kerumunan - bagbudig

Breaking

Sunday, April 26, 2020

Kuliah di Kelantan: Ruang Ritual, Khotbah dan Kerumunan

Oleh: Yogi Febriandi

Pagi itu, bertepatan dengan hari Jum’at di bulan November 2019 saya berada di kawasan Medan Ilmu, Kota Bharu, Ibukota Negara Bagian Kelantan, Malaysia. Di Kelantan, hari Jum’at merupakan hari libur negara bagian. Seluruh kantor pemerintahan dan lembaga pendidikan tutup. 

Hari Jum’at memang hari “keramat” bagi umat Islam, tidak ada Muslim yang asing dengan kekeramatan hari ini. Pasalnya terdapat satu ibadah (ritual) penting yang harus dijalankan oleh setiap laki-laki, Shalat Jama’ah Jum’at. Untuk mensepesialkan ibadah tersebut, Kelantan memberi hari libur khusus. Menggantikan posisi hari Minggu sebagai hari libu seperti yang dilakukan masyarakat Muslim di kawasan lainnya. 

Namun, di negara bagian ini Jum’at bukan hanya “keramat” karena adanya Shalat Jama’ah. Sudah lebih dari 20 tahun, atau setelah Partai Islam Se-Malaysia (PAS) berkuasa di Kelantan, hari Jum’at juga merupakan hari kuliah. Kuliah merujuk pada kegiatan khutbah rutinan yang diadakan di ruang terbuka pada hari Jum’at. Pengisi kuliah berasal dari cendikiawan Muslim yang biasanya juga berasal dari anggota tinggi PAS. 

Kuliah dilakukan di depan kantor perwakilan PAS Kelantan yang berada di kawasan Medan Ilmu, Kota Bharu pada pukul 09.30 – 10.30. Hotel saya tidak jauh dari lokasi kuliah diadakan, hanya 100 meter. Ini memberi sedikit keuntungan kepada saya, karena saya dapat menikmati waktu terbaik untuk melihat warga Kota Bharu mempersiapkan hari penting ini. Dari informasi yang saya dapatkan melalui petugas hotel, biasanya warga Kota Bharu sudah mendatangi kawasan Medan Ilmu selepas shalat Shubuh. Orang-orang ini perlu mempersiapkan tenda serta alas untuk membentang dagangan. 

Persis seperti rekomendasi petugas hotel, pagi itu saya melihat di dalam tenda yang tadi dibangun terdapat aneka dagangan, meskipun kesemuanya sangat bernuansa Arab. Mulai dari kurma, kacang-kacangan Arab, serban, gamis hingga bendera Palestina. Namun, sisi menariknya para penjual tidak didominasi oleh para lelaki, seperti pasar-pasar yang saya jumpai di India. Bazar di Medan Ilmu ini memberi kebebasan kepada perempuan untuk membuka lapak dagangan dan melakukan transaksi jual beli. Suatu imej yang menarik dari pasar yang diidentikkan serba Islami.

Saya masih ingat, rasa roti canai yang dicampur telor setengah matang dan Kopi Tiam yang saya cicipi sebagai sarapan di Bazar tersebut. Kopinya enak, rotinya nikmat. Kedai ini sepertinya dijalankan oleh keluarga, itu saya lihat dari cara komunikasi si pembuat kopi dan pelayanan perempuan yang sudah berumur. Tidak hanya pasangan tersebut yang saya amati, seluruh ruangan ini tidak luput dari mata sigap saya. 

Dari usaha tersebut, saya jadi mengetahui kedai kopi ini dipenuhi rombongan pria yang menggunakan serban, para perempuan tua dan remaja. Beberapa ada yang datang dengan kelompok pengajian yang terlihat dari kupiah seragam yang digunakan. Yang lain bersama keluarga atau kawan-kawan di sekolah seperti rombongan perempuan muda di depan saya. Semua terlihat berbaur didalam kedai kopi ini, dan saling mengenal. Sepertinya mereka sedang menunggu waktu kuliah dimulai.

Ketika panitia kuliah mengumumkan bahwa acara akan dimulai sekitar 15 menitan lagi, kerumunan massa telah memadati lokasi kuliah dilaksanakan. Bersamaan dengan itu pemilik kedai mengutip biaya sarapan dari pengunjung. Saya diminta keluar dari kedai kopi karena tidak ada toko yang buka ketika kuliah dimulai. 

Saya diajak pemilik kedai kopi duduk di tengah kerumunan, kali ini tidak ada sang istri yang mendampingi sang pemilik kedai kopi. Beberapa keluarga yang saya jumpai di tempat sarapan juga terlihat memisahkan diri di tengah kerumunan. Laki-laki berada di dekat panggung dan perempuan berada di bagian kiri menghadap penggung. Tidak ada intruksi dari panitia akan hal tersebut. Pengunjung dengan sendirinya memisahkan diri, dan membagi kerumunan menjadi dua. Seperti suatu aturan yang berpola dan teratur yang tak perlu lagi intruksi. Suasana ini asing bagi saya kala itu, seakan-akan pengunjung ingin mengatakan bahwa di Kelantan ruang memiliki kelamin.

Tapi pikiran itu tidak bertahan lama ketika ingatan tentang situasi Bazar dan kedai kopi yang sebelumnya saya datangi muncul kembali. Dalam ingatan saya , di dua lokasi tersebut dengan kerumunan yang sama pembelahan ruang tidak terjadi. Tidak ada semacam pengkategorian ruang yang bekerja. Tidak ada aturan kelamin di ruang tersebut. 

Lantas apa yang menyebabkan interaksi di kedai kopi dan lapangan depan kantor PAS bekerja dengan cara berbeda? Mengapa di ruang pertama, pemisahan ruang dapat bekerja sedang di ruang terakhir tidak?

Untuk memahami ini, saya mungkin harus mengingat cukup lama pendapat Victor Turner (1966) yang menyatakan bahwa ritual ialah permainan makna dan simbol yang bersangkut paut dengan struktur sosial. Di sini saya dipaksa Turner untuk melihat kuliah dari kacamata ritual agama. Tidak sulit memang, karena syarat-syarat tersebut telah terpenuhi mulai dari pelibatan gerak tubuh, kata-kata, tindakan, atau objek serta dilakukan di tempat yang diasingkan dan dilaksanakan sesuai dengan urutan yang ditetapkan.

Bila saya ajak kembali Turner untuk berada di kerumunan ini, mungkin ia akan bersepakat bahwa kuliah yang sedang berlangsung menemukan bentuknya karena adanya pengkhotbah, panggung, tenda kerajaan Kelantan, hari Jum’at, dan kerumunan ini. Simbol-simbol yang dapat menandakan bahwa ruang ritual sedang berlangsung. Simbol-simbol ini yang memberi maksud kepada kerumunan untuk duduk diam mendengar pengkhotbah yang berada di panggung dan mengikuti aturan ritual dengan tertib. Salah satu ketertiban yang ingin dicapai oleh ritual tesebut ialah pemisahan ruang berdasar kelamin.  

Hal ini tidak sulit untuk mencari pijakan idenya, karena dalam tradisi Islam, keberadaan perempuan dan laki-laki dalam satu ruang adalah taboo. Semacam ada ketidaksucian dari relasi tersebut. Dan kesucian adalah dasar dari ritual (ibadah). Ruang ritual selalu dilihat dari sudut pandang ini. Memisahkan laki-laki dan perempuan dari kerumunan menandakan bahwa kuliah telah sesuai dengan ide-ide penyecuian tersebut. Oleh karena itu, restu dari langit telah didapati, dan kuliah yang pada dasarnya tidak ada bedanya dengan pidato politik tampak sakral bagi kerumunan di Medan Ilmu.

Jawaban ini, meski tidak memuaskan hati saya kala itu, tapi cukup menghadirkan sekejap ketenangan. Dari ketenangan sekejap itulah akhirnya saya pun larut dalam kerumunan.

Daftar Bacaan

Victor Turner, The Ritual Process, Struture And Anti-Structure, (Ithaca: Cornell University Press, 1966).

Editor: Khairil Miswar

Ilustrasi: adukataruna

No comments:

Post a Comment