Ketika Abusyik Menafsirkan Corona - bagbudig

Breaking

Friday, April 3, 2020

Ketika Abusyik Menafsirkan Corona

Corona berasal dari senjata biologis yang sudah masuk dalam ranah teknologi elektronik. Cara pekerjaan dia yang pertama kali yang mendukung dia bekerja adalah listriknya, pembangkitnya.

Senjata itu pada dasarnya digunakan pada saat rakyat suatu negara sudah membeludak dan tidak ada tempat lagi untuk berteduh. Kebiasaannya mereka akan melakukan hal seperti ini.

Senjata ini digunakan pada saat Perang Dunia Ketiga. Inilah yang dinamakan senjata kimia. Maka untuk menangani ini, kalau kita mau putuskan rantai merebaknya virus itu.

Seandainya merebak terhadap rakyat saya, masyarakat saya, keluarga saya dan seterusnya ini saya tidak peduli siapa dia. Kalau tiba waktunya akan saya lockdown. Begitulah. Memang saya tahu bagaimana proses asal-usul. Mudah-mudahan ada solusi untuk kita tangani.

Empat paragraf di atas adalah kutipan campur aduk yang berhasil saya catat dari ceramah Abusyik, Bupati Pidie, yang viral baru-baru ini. Memang, kutipan di atas tidak sama persis, tapi kira-kira substansinya demikian.

Awalnya memang ada keinginan untuk mendengar ulang suara di video itu agar lebih pas. Tapi terpaksa saya tunda, karena saya khawatir kalau terlalu sering mendengar, nantinya saya pun akan ikut-ikutan bicara seperti itu.

Pasca viralnya video itu, beranda media sosial pun semak dengan beragam komentar. Ada yang mentah-mentah membenarkan isi ceramah Abusyik. Mungkin saja mereka satu “guru” atau setidaknya punya referensi yang sama tentang corona. Tersebab itu pembelaannya kita hargai sebagai wujud solidaritas “seperguruan.”

Bahkan ada pula netizen yang mencoba memberikan apresiasi tinggi kepada Abusyik dengan cara mengusulkan beliau bekerja di NASA atau WHO. Ini luar biasa.

Kebalikan dari itu, ada juga sebagian netizen yang tegas-tegas membantah isi ceramah Abusyik dengan menggunakan referensi lain, yang mungkin belum dimiliki Abusyik. Atau sudah dimiliki, tapi belum sempat dibaca dan dianalisis oleh Abusyik karena kesibukan beliau.

Namun sedihnya, ada oknum netizen yang justru mengaitkan teori corona pembangkit listrik versi Abusyik dengan nilai “cum laude” yang diperolehnya saat meraih gelar sarjana. Menurut saya, ini komentar paling “sadis” dan tidak ada sopan santun dengan pemimpin.

Terlepas dari apa pun yang terjadi, yang jelas teori corona pembangkit listrik versi Abusyik telah menguras perhatian kita semua di tengah penyebaran wabah di seluruh dunia yang belum selesai.

Bagi penganut teori konspirasi, apa yang dikemukakan Abusyik tidaklah aneh. Bahkan jika ditinjau dari perspektif sains teori itu juga memungkinkan, meskipun para ilmuan nantinya akan kehabisan akal mencari benang merah antara virus dengan aliran listrik yang tentunya harus melibatkan PLN.

Saya justru curiga kalau faktor listrik inilah yang membuat pemerintah Aceh memberlakukan jam malam agar masyarakat bisa tidur lebih cepat dan lalu mematikan listrik di rumah masing-masing sehingga corona pun mati karena pembangkitnya telah padam. Dan, satu lagi, bisa jadi aksi PLN yang sering memadamkan listrik juga merupakan gerakan senyap untuk membasmi corona.

Ilustrasi: Waspada

No comments:

Post a Comment