Dokarim dan Syair Perang Aceh - bagbudig

Breaking

Thursday, March 5, 2020

Dokarim dan Syair Perang Aceh

Di masa perang melawan tentara kolonial, para pejuang Aceh melakukan perlawanan sengit kepada Belanda, tanpa pernah menyerah. Akibatnya korban terus berjatuhan, baik dari para pejuang Aceh, mau pun dari pihak kolonial.

Di tengah gemuruh perang itu, para pejuang Aceh sering kali melantunkan syair perang yang dikenal dengan Hikayat Prang Sabi atau Syair Perang Sabil.

Saat itu para penyair dan seniman Aceh sengaja melantunkan syair Perang Sabil di pusat-pusat keramaian untuk memompa semangat rakyat agar tidak takluk pada Belanda.

Foto: researchgate.net

Salah seorang penyair yang terkenal saat itu adalah Abdul Karim yang lebih populer dengan nama Dokarim. Penyair yang satu ini selalu saja berusaha memompa semangat rakyat melalui syair yang senantiasa ia nyanyikan.

Menurut Jusuf Abdullah Puar, Dokarim berasal dari Matangglumpangdua (sekarang Kabupaten Bireuen), sebuah kota kecil yang terletak antara Sigli dan Lhokseumawe. Sementara Teuku Ibrahim Alfian kabarnya meyakini Dokarim berasal dari Keutapang Dua, Aceh Besar.

Snouck Hurgronjoe menampik sosok Dokarim sebagai seorang sastrawan. Dalam bukunya, seperti dikutip Puar, Snouck, menyebut Dokarim sebagai bukan pengarang, sebab ia tidak bisa membaca dan menulis.

Menurut Puar, klaim Snouck Hurgronjoe ini tidak benar, sebab Dokarim bisa membaca dalam tulisan huruf Arab. Dokarim cuma buta aksara Latin, tapi lancar dengan aksara Arab sehingga penilaian Snouck menjadi tidak tepat.

Foto: Pandji Majarakat

Dokarim mampu membaja Hikayat Prang Sabi dalam tulisan Arab selama lima tahun lamanya saat ia ikut bergerilya bersama Teuku Umar. Informasi ini juga dibenarkan oleh Dada Meuraxa.

Selama lima tahun bergerilya, Dokarim selalu saja melantunkan Hikayat Perang Sabi sebagai penyemangat bagi pasukan Aceh agar tak gentar melawan Belanda.

Menurut Puar, Dokarim sebelumnya adalah seorang pengatur pertunjukan Seudati sehingga ia sudah sangat menguasai berbagai syair.

Seperti diketahui, Hijayat Perang Sabil bukan karangan Dokarim, tapi karangan Teungku Chik Pante Kulu. Dokarim hanya membaca dan melagukannya dengan kreativitasnya sendiri sehingga syair itu menjadi lebih menarik.

Buku syair Perang Aceh juga pernah diterbitkan dalam Bahasa Melayu di Singapura. Buku itu mencantumkan penulis dengan nama Budak Jauhari. Syair tersebut juga pernah diterjemahkan ke dalam Bahasa Belanda oleh E. Blok.

Sumber Bacaan: Jusuf Abdullah Puar, Sjair Perang Sabil di Atjeh, dalam Pandji Masjarakat No. 2 Tanggal 1 Juli 1959, hal. 6,7 dan 28.

Foto Dokarim: researchgate.net

No comments:

Post a Comment