Memudakan Pengertian Modernisme Islam - bagbudig

Breaking

Saturday, February 8, 2020

Memudakan Pengertian Modernisme Islam

Oleh: Bung Alkaf*

Modernisme Islam adalah anak kandung peradaban Barat modern, dalam pengertian, kehadirannya memberi respons terhadap apa pemikiran yang berkembang di Barat, kemudian dicarikan padanannya dengan Islam. Bagi kaum modernis, Islam harus belajar dari kemajuan Barat, tanpa meninggalkan inti ajaran Islam itu sendiri. Modernisme Islam tidak sendiri dalam melihat Barat, sebab ada tiga varian dalam melihat hubungan itu.

Pertama, kelompok yang menolak sama sekali kemajuan dari Barat. Di masa awal, varian itu disebut kelompok tradisional. Kelompok ini sejak awak sudah curiga, apa pun yang datang dari Barat, baik itu pemikiran, corak organisasi maupun penampilan, tidak sesuai dengan ajaran Islam. Islam yang murni itu, menurut kelompok tradisional, haruslah sesuai dengan tradisi Islam – pada titik ini seringkali pada persoalan fiqh. Sukarno, ketika di pulau Ende, pernah jengkel sekali ketika berhadapan dengan orang-orang demikian, sehingga dia menulis sebuah risalah, Memudakan Pengertian Islam. 

Kedua, varian yang mengambil bulat-bulat apa yang datang dari Barat, tanpa mempertimbangkan sama sekali aspek kesejarahan dalam dunia Islam. Secara sederhana, kelompok ini disebut sebagai pengusung sekularisme. Walau, sekularisme adalah terma yang tidak sederhana. Atau, yang selalu diberi pengertian pemisahan agama dan negara. Apalagi dimaknai dengan memusuhi agama.

Sekularisme dalam pengertian lain adalah, negara mengambil jarak dengan agama. Agama, biarlah menjadi urusan masyarakat. Percakapan mengenai sekularisme di Indonesia modern tidak pernah mencapai diskursus yang maksimal, meskipun pernah coba dibangun melalui perdebatan antara Sukarno dengan Natsir, di sidang-sidang BPUPKI maupun di Majelis Konstituante. Namun tidak pernah menjadi perdebatan secara terus menerus, karena selalu saja hal tersebut berubah menjadi domain politik. Misalnya, ketika Nurcholish Madjid menyampaikan pikirannya tentang sekularisasi, dengan cepat HM. Rasjidi memberikan respons kerasnya. Di satu sisi, perdebatan keduanya merupakan wilayah akademik, namun semua paham, bahwa apa yang dibicarakan keduanya  akan berlanjut ke lapangan politik. 

Ketiga, varian yang merespons ide Barat secara optimis, namun mempertautkannya itu dengan Islam. Varian ketiga ini, percaya bahwa dengan mengambil gagasan kemajuan Barat akan membuat Islam dapat hidup di zaman modern dengan baik. Varian ini sering disebut Islam Modernis. Namun modernisme Islam bukan tanpa kritik.

Fazlur Rahman, yang lalu melahirkan gagasan Neo-modernisme- mengatakan bahwa modernisme demikian malah mencerabut mereka dari tradisi Islam yang kaya dari masa lalu. Atau, kritik dari Ahmad Wahib dalam memoarnya yang terkenal itu, ketika dia melihat NU – sebagai wakil Islam tradisional di Indonesia – menjadi lebih menarik dari Muhammadiyah – yang katanya seperti sudah “berhenti.” Atau, seperti pandangan kritis Yudi Latif, bahwa dalam perkembangannya, dia melihat aktivis Islam modernis, malah mulai meninggalkan basis awalnya sebagai pedagang dan masuk ke birokrasi.

Dalam konteks Aceh, yang disampaikan oleh Yudi berjumpa dengan pengalaman PUSA, ketika generasi kedua dari organisasi Islam modern itu, meninggalkan basis pedesaan dan perdagangan, lalu bertransformasi menjadi muslim perkotaan serta masuk ke birokrasi, terutama di pertengahan sampai akhir abad ke-20. 

Tantangan modernisme Islam berikutnya adalah ketika kelelahan mengejar perkembangan pemikiran humanisme, rasionalisme dan demokrasi di Barat – hal yang di masa dahulu diapresiasinya. Di satu titik, kemapanan yang dirasakan oleh Islam modernis malah menjadikannya gerakan tersebut perlu membuat benteng dari Barat. Apalagi masalah menjadi rumit, ketika modernisme Islam di beberapa aspek mengalami infiltrasi dari fundamentalisme, sehingga mencerabut mereka dari spirit awal.

Infiltrasi ini dapat dibaca ketika mengalami mobilitas vertikal, baik dalam birokrasi, politik maupun ekonomi, modernisme Islam lalu kehilangan asupan religiusitas. Apalagi dalam tradisi pemikiran keislamannya, modernisme kurang memberi tempat untuk tasawuf. Ditambah secara politik, Islam modernis menjadi pihak yang dikalahkan, misalnya pada pengalaman Masyumi dan PUSA. Akibat itu, maka spirit modernisme awal, yang mengapresiasi pemikiran yang berkemajuan mengalamai defisit. Oleh karenanya, upaya memudakan kembali modernism Islam itu haruslah dimulai kembali. Jalannya, selain ilmu pengetahuan, juga memperkuat civil society. Dua hal itu merupakan modal Islam modernis untuk kembali memainkan perannya seperti di awal abad ke-20 lalu. 

*Penulis adalah Mahasiswa Program Doktoral Politik Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

No comments:

Post a Comment