The Joker - bagbudig

Breaking

Thursday, January 16, 2020

The Joker

Oleh: Goenawan Mohamad

Hari-hari ini, ketika paronia dan politik bertaut, ketika curiga dan cemas jadi suara-suara keras, ketika agama dan politik menuding agresif, kita seakan-akan sedang memasuki medan perang Kurusetra, atau terlibat terengah-engah dalam “Star Wars”, dalam konflik Darth Vader vs Luke Skywalker.

Si jahat di sana, si baik di sini: “bad guys” melawan “good guys”. Garis demarkasinya tegak lurus sampai ke langit.

Mungkin itulah yang terjadi ketika politik dan agama diedarkan mirip kisah heroisme yang diproduksi sebagai komoditi: batas harus jelas. Tak ada yang rumit dalam menentukan ke mana kita berpihak.

Karya-karya hasil Marvel Comics, misalnya, yang dibuat gemuruh- gemebyar oleh Hollywood: semua ingin menjangkau peminat seluas-luasnya, pembaca dan penonton sebanyak-banyaknya. Sebab itu yang dicari dalam diri calon konsumen adalah “faktor persekutuan” terendah. Dengan kata lain, hal paling gampang untuk disambut: alur cerita yang mengasyikkan, thema yang tak mempersulit pikiran, akhir yang membahagiakan.

Itulah yang membuat dongeng Si Kancil, “1001 Malam”, pertunjukan wayang wong, cerita sinetron TV Indonesia, film India dan produk Hollywood macam “The Avengers” disukai — meskipun tak membuat kita terlatih berfikir.

Tapi ada yang membedakan cerita lama dari film superhero ala Marvel Comics. Hikayat yang dibacakan di malam hari di dusun-dusun di masa lampau tertuju kepada hadirin tertentu. Sebaliknya film jagoan superjagoan Hollywood tertuju ke penonton yang terbentang dari Alaska sampai dengan Australia.

Dalam hasil industri film yang kita tonton di mall, tampak tegas garis demarkasi yang saya sebut di atas: kontras dan konfrontasi antara manusia jahat dan manusia baik.

Ada yang mengatakan ini gejala baru. Sebuah esei dalam majalah Aeon baru-baru ini menunjukkan bahwa dalam cerita-cerita lama — misalnya Jack & Batang Kacang dan puisi Homeros dari Yunani kuno — tokoh “baik” tak sepenuhnya suci murni. Si Jack, misalnya, mencuri sepatu si raksasa. Si Kancil adalah tokoh sentral dalam dongeng ibu kita, tapi ia bukan tauladan akhlak mulia. Dalam puisi Homeros tentang Perang Troya, tak jelas mana yang secara moral unggul: Hektor yang membela kotanya atau Achilles yang membalas kematian orang yang dikasihinya? Dalam Mahabharata — meskipun sekarang, di tangan dalang komesial, jadi cerita yang “moralistis” — pada mulanya Kurawa tak bisa dianggap himpunan kejahatan dan Pandawa 100% luhur budi; kita tak bisa melihat Karna tak berakhlak dan Arjuna tokoh yang suci.

Dulu, sebelum agama dan politik menuding agresif pihak “lain”, apa yang “moral” bukan berarti menampik yang “hitam” dan memuja yang “putih”. Apa yang “moral” justru menerima nuansa, mengakui mustahilnya usaha menyederhanakan “hitam” dan “putih.”

Tapi kemudian, ajaran moral ikut arus perdagangan, terutama di dunia yang makin tampak beraneka-ragam. Sejak itu ada kecenderungan mengabaikan nuansa. Dilema pun disingkirkan, problem moral disederhanakan. Bukan saja agar gampang dipasarkan, tapi juga karena mereka yang merasa berpengaruh dan berwewenang ingin menjaga stabilitas sosial, dengan membangun akhlak kolektif — yang biasanya diberi label agar mudah ditangkap: “akhlak bangsa”, “akhlak agama”…

Maka propaganda —pesan moral yang sepihak — jadi penting.

Propaganda adalah teknik membekukan jiwa dengan cara membosankan — dengan khotbah dan kampanye pengeras suara yang diulang-ulang jam demi jam. Kebosanan justru dasar yang baik untuk cuci-otak: dalam jemu, dalam lelah pikiran, kita pun jadi pasif. Kita biarkan diri menerima apa saja yang masuk, mengulang apa saja yang dijejalkan.

Tapi ada batas. Sejarah selalu menyimpan penangkal. Selalu ada suara atau bentuk yang menyimpang di celah-celah proses pembekuan jiwa. Selalu ada cetusan yang berbeda, yang membebaskan, bahkan di kalangan “produsen” maupun “konsumen” produk budaya massal.

Dalam film “Batman”, misalnya, The Joker, si jahat begitu jahat hingga kita tak percaya ia akan bisa hidup dalam hidup nyata. Hiperbol selalu mengandung dusta yang mengasyikkan, dan kita memaafkannya. Baik ketika diperankan Heath Ledger dalam versi tahun 2008, maupun Jack Nichilson dalam versi 1989, tokoh ini bergerak antara badut dan bajingan, menggelikan dan mengerikan. Di satu adegan ia baca sajak:

Hanya di wajah aku meringis
Senyumku setipis kulit
Tapi jika kau intip
dalam hati aku menangis

Ia memang ambiguitas: ia tak membosankan, tak mudah dilupakan. Ia menerobos kebencian yang kedap, mengoyak fanatisme yang menuduh manusia lain dengan label yang klise.

Di situ kita tahu, ketawa adalah kekuatan subversif di tengah paranoia yang ingin kuasa.

Dengan itulah kita menemukan perlawanan terhadap “keangkuhan jiwa”, “l’arroganza dello spirito”, yang disebut dalam novel Umberto Eco yang termashur itu, “Il nome de la rosa”: “iman yang tanpa senyum, kebenaran yang tak pernah dijangkiti ragu.”

Sumber: Facebook Goenawan Mohamad

No comments:

Post a Comment