Kereta Kuda Kerajaan Mangkunagara IV - bagbudig

Breaking

Friday, January 10, 2020

Kereta Kuda Kerajaan Mangkunagara IV

Oleh: Dr. Agung Waspodo, MA

Di Rijksmuseum, Belanda, terdapat satu lukisan (gambar atas) berjudul “The Coach of Mangkoe Nagoro IV (c. 1870)” karya pelukis Pieter Alardus Haaxman. Sekilas saya lihat kereta kuda Keraton Surakarta ini seperti Kyai Condro Retno (gambar kanan bawah).

Sebenarnya, Haaxman membuat lukisan ini untuk semacam promosi produk pabrik kereta kuda berkedudukan di Den Haag yang bernama Hermans en Co. Kereta kuda ini dipesan oleh Sultan Mangkunagara IV (gambar kiri bawah) dan angka Romawi IV terlihat pada pintunya.

Sekilas tentang Mangkunagara IV

Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara IV (KGPAA Mangkunegara IV) lahir pada tanggal 3 Maret 1811 (Senin Pahing, 8 Sapar 1738 tahun Jawa Jumakir, Windu Sancaya) dengan nama kecil Raden Mas Sudira. Ayahnya bernama KPH Adiwijaya I sementara ibunya adalah putri KGPAA Mangkunagara II bernama Raden Ajeng Sekeli.

Sudah menjadi tradisi para putera bangsawan tinggi Mangkunagaran, apabila telah cukup umur harus mengikuti pendidikan militer.

Pada umur 15 tahun menjadi kadet di Legiun Mangkunagaran. Seperti yang ditulis oleh Letnan Kolonel H.F. Aukes bahwa ada perbedaan pendidikan kadet antara kesatuan tentara Hindia Belanda dengan kesatuan Legioen Mangkoenegaran. Para perwira pelatih di Legioen bukan instruktur, mereka hanya ditugasi membantu memberikan pendidikan pelajaran, selebihnya dilatih sendiri oleh perwira senior Legioen.

Begitu lulus pendidikan selama setahun, ia ditempatkan sebagai perwira baru di kompi 5.


Baru beberapa bulan bertugas di kancah pertempuran, ia menerima kabar bahwa KPA Adiwijaya I, ayahandanya mangkat. Dengan berat hati terpaksa ia meminta izin kepada kakeknya, KGPAA Mangkunagara II yang menjadi panglimanya agar diijinkan pulang untuk memberikan penghormatan terakhir kepada ayahandanya.

Legioen Mangkoenegaran Memihak Belanda

Setelah pemakaman, ia kembali ke kancah pertempuran. Pasukan Legioen Mangkoenegaran berhasil mengalahkan pasukan Pangeran Diponegoro dan menangkap pimpinan pasukan yang dikenal bernama Panembahan Sungki. Pada Perang Jawa 1825-1830, Legioen memihak Belanda dan turut memerangi Pangeran Diponegoro.

Semasa bertahta, Mangkunagara IV mendirikan pabrik gula di Colomadu (sebelah barat laut kota Surakarta, kini telah ditutup) dan Tasikmadu. Beliau juga memprakarsai berdirinya Stasiun Solo Balapan sebagai bagian pembangunan jalur rel kereta api Solo–Semarang, kanalisasi kota, serta penataan ruang kota.

Pada masa pemerintahannya, pihak istana Mangkunegaran menulis kurang lebih 42 buku, di antaranya Serat Wedhatama, dan beberapa komposisi gamelan. Atas jasa kepujanggaannya, khususnya dalam penulisan Serat Wedhatama, Mangkunagara IV mendapat penghargaan Bintang Mahaputra Adipradana dari Pemerintah RI melalui Keppres RI nr. 33/TK/Tahun 2010 secara anumerta, yang diberikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kepada perwakilan kerabatnya pada tanggal 3 November 2010.

Mangkunagar IV memerintah sejak tahun 1853 hingga wafat tahun 1881 dan dikebumikan di Astana Girilayu. Mungkin pada masa pemerintahannya, kekuasaan Mangkunagaran berada pada puncak kebesarannya.

Depok, 14 Jumadil-Ula 1441 Hijriyah

Sumber: Facebook Agung Waspodo

No comments:

Post a Comment